Sabtu, 30 Mei 2009

. Sabtu, 30 Mei 2009

MATERI AJAR PLPG SENI BUDAYA ANGK III 2008 DI DEPAG SMG
Eny Kusumastuti

A. Kompetensi dan Indikator
1. Kompetensi
a. Mampu memahami konsep-konsep dan ruang lingkup pembelajaran seni dan budaya
khususnya seni tari melalui pendekatan ekpresi bebas, disiplin dan
multikultural.
b. Mampu merancang pembelajaran seni budaya khususnya seni tari melalui
pendekatan ekspresi bebas, disiplin dan multikultural sesuai dengan kondisi
lingkungan sosial budaya sekolah.
2. Indikator
a. Menjelaskan pengertian pendekatan ekspresi bebas.
b. Menjelaskan latar belakang kelahiran pendekatan ekspresi bebas.
c. Menjelaskan konsep dasar pendekatan ekspresi bebas.
d. Menjelaskan implementasi pendekatan ekspresi bebas.
e. Menjelaskan konsep dasar pendekatan berbasis disiplin.
f. Menjelaskan perbedaan antara pendekatan berbasis disiplin dan pendekatan
ekspresi bebas.
g. Menjelaskan pengertian pendidikan seni berbasis multikultural.
h. Menjelaskan latar belakang kelahiran pendidikan seni berbasis multikultural.
i. Menjelaskan konsep dasar pendidikan seni berbasis multikultural.

PEMBELAJARAN SENI BUDAYA MELALUI PENDEKATAN EKSPRESI BEBAS, DISIPLIN DAN MULTIKULTURAL

Pembelajaran Seni Budaya melalui Pendekatan Ekspresi Bebas
1. Pengertian Pendekatan Ekspresi Bebas
Pendekatan ekspresi bebas dalam pendidikan seni rupa sangat populer di Indonesia, khususnya di kalangan pendidik seni rupa. Istilah ini mendominasi wacana pendidikan seni rupa terutama pada dekade 1970 an sejalan dengan digantinya nama mata pelajaran menggambar menjadi seni rupa pada kurikulum sekolah. Perubahan nama ini dianggap perlu untuk disosialisasikan terutama menyangkut latar belakang penggantian nama itu. Salah satu alasan utama mengapa mata pelajaran menggambar digantikan namanya karena pada mata pelajaran menggambar melekat citra sebagai pelatihan teknik keterampilan belaka yang tidak perduli akan kebutuhan kejiwaan anak . Sesungguhnya ada upaya sebelumnya dari pendidik untuk menghilangkan citra pelajaran menggambar sebagai hanya sekedar pelatihan keterampilan, tetapi upaya ini kurang begitu berdampak terhadap praktik pengajaran menggambar di kelas. Sehingga digantilah dengan nama seni rupa, diharakan dapat memunculkan citra baru sebagai kegiatan pembelajaran yang perduli akan kebutuhan kejiwaan anak. Hal ini dimungkinkan karena seni rupa menawarkan berbagai kegiatan.
Pendekatan ekspresi bebas bercirikan pemberian kesempatan bagi anak untuk menyatakan dirinya secara tidak terganggu melalui seni (seni Tari) dalam kegiatan pembelajaran. Pendekatan ini tidak lahir begitu saja tetapi ada yang melatarbelakanginya.

2. Latar Belakang Kelahiran Pendekatan ekspresi Bebas
Ketika Seni rupa untuk pertama kalinya diajarkan di sekolah umum dalam bentuk mata pelajaran menggambar pada permulaan abad ke-19, tujuan yang ingin dicapai adalah menjadikan anak pandai menggambar yang tercermin pada kemampuannya untuk menirukan wujud apa yang terdapat di alam ini ke dalam bidang datar. Itulah sebabnya, mata pelajaran menggambar di sekolah mengutamakan koordinasi mata dan tangan. Apa yang diamati oleh mata dapat secara akurat diterjemahkan oleh tangan melalui goresan pensil atau pewarna lain. Semakin akurat citra yang digoreskan, semakin berhasillah gambar tersebut. Untuk itu, guru berupaya sekuat tenaga untuk menjadikan anak terampil menerjemahkan apa yang diamatinya ke atas bidang gambar melalui pemberian beragam latihan. Diyakini secara meluas pada abad ke-19 bahwa sifat keluguan gambar anak disebabkan karena mereka belum mendapatkan latihan yang sesuai yang memungkinkan berkembangnya keterampilan serta ketajaman matanya dalam mengamati obyek sehingga mampu melahirkan karya seni rupa yang bersifat naturalistis yang menjadi kecenderungan pada masa itu (Efland, tt).

Ketika dunia industri memerlukan keterampilan menggambar untuk keperluan desain, maka pengajaran menggambar di sekolah pun mengikuti tren ini dengan pemberian materi pelajaran untuk keperluan industri. Di balik pergeseran orientasi ini, metode pengajaran menggambar yang digunakan pada dasarnya sama yakni bersifat direktif dengan latihan yang ketat agar anak terampil menggambar.
Metode pengajaran menggambar seperti disebutkan di atas, lambat laun dianggap tidak layak untuk dilakukan. Berbagai faktor yang menjadi pemicu lahirnya anggapan tersebut antara lain adalah (1) temuan berbagai studi tentang anak, (2) pengaruh pandangan Freud, (3) terjadinya gerakan pembaruan dalam dunia seni rupa.

2.1 Temuan Berbagai Studi tentang Anak
Akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 ditandai oleh timbulnya perhatian peneliti untuk memahami dunia anak. Hasil temuan mereka membuka mata para pendidik, termasuk pendidik seni rupa. Henry Turner Baily (Elfand, tt) seorang tokoh pendidik seni rupa pada masa itu menulis Paidology (ilmu tentang anak) mengungkap banyak hal kepada kita. Kini kita menapaki jejak anak dalam pendidikan. Uhlin (1972) menunjuk Corrado Ricci, seorang penyair Italia sebagai pelopor penelitian terhadap karya seni rupa anak. Khusu menyangkut perkembangan anak dalam menggambar, studi awal yang dilakukan oleh Lichtwark pada tahun 1887 dan Baldwin tahun 1898 mencoba menemukan kesamaan antara perkembangan anak dalam menggambar dengan teori evolusi umat manusia yang populer pada masa itu. Perkembangan kemampuan anak dalam menggambar disejajarkan dengan gambar di gua yang dibuat oleh manusia prasejarah dengan asumsi bahwa perkembangan kemampuan anak selanjutnya akan mengikuti pola perkembangan seperti yang secara evolusioner terjadi pada umat manusia.

Pada tahun 1892, James Sully seorang filosof dan psikolog Inggris, memulai memperhatikan istilah skema untuk menamai pola gambar anak yang sederhana sebagai simbol dari sesuatu. Selanjutnya pada tahun 1893, Earl Barnes dalam laporannya tentang gambar anak mencatat adanya fase perkembangan kemampuan anak dalam menggambar yang dikaitkan dengan usia. Tetapi, Herman Lukenslah pada tahun 1896 yang mula pertama menyusun fase perkembangan anak dalam menggambar yang dikaitkan dengan usia dengan uraian sebagai berikut: (1) hingga masa 4 tahun, anak berada pada tahap coreng moreng, (2) usia 4 hingga 8 tahun, merupakan masa keemasan yang bercirikan menggambar sambil bercerita, (3) usia 9 hingga 14 tahun merupakan masa kritis yang ditandai oleh timbulnya kesadaran baru anak yang membuatnya tidak lagi puas dengan gambar yang dihasilkannya. Perkembangan menggambarnya kemudia menjadi mandek, (4) usia 14 tahun yang merupakan masa kelahiran kembali oleh munculnya kemampuan kreatif dari beberapa orang anak yang berbakat (Uhlin, 1972).

Selain pola perkembangan menggambar anak, berbagai konsep kemudian lahir dari upaya penelitian terhadap dunia seni rupa anak. Sigfried Levenstein dari Leipzig memperkenalkan konsep berceritera (storytelling) bagi gambar anak, Max Verwon memperkenalkan memperkenalkan istilah ideoplastik dan fisioplastik (ideoplastic and physioplastic) dalam menggambarkan perkembangan gambar anak, William Stern menunjuk adanya hubungan antara menggambar dan perkembangan berbahasa.

2.2. Pengaruh Freud
Pandangan Freud, seorang psikolog terkemuka yang memostulasikan bahwa alam bawah sadar dari seseorang merupakan sumber nyata dari motivasi, mendorong lahirnya pandangan di kalangan pendidik bahwa tugas utama sekolah adalah tidak menekan perasaan anak dan sebaliknya menyalurkannya ke arah yang positif. Margaret Naumberg, salah seorang pendidik seni rupa yang amat berpengaruh oleh pandangan Freud, menyatakan bahwa setiap larangan yang bersifat menekan bertentangan dengan temuan baru dalam bidang biologi, psikologi, dan pendidikan. Untuk itu, diperlukan cara yang bersifat konstruktif dan kreatif untuk mengarahkan kekuatan vital sang anak (Elfland, 1990).

2.3. Terjadinya Gerakan Pembaharuan Seni Rupa
Pembaharuan dalam dunia seni rupa yang besar dampaknya dalam pendidikan seni rupa pada akhir abad ke-19 adalah gerakan ekspresionisme. Ekspresionisme timbul sebagai reaksi terhadap seni rupa mimesis yang telah mentradisi di dunia Barat sejak zaman klasik Yunani. Seni rupa mimesis berpijak pada pandangan bahwa seni rupa merupakan tiruan alam. Ini berarti, kualitas karya seni rupa ditentukan oleh kepersisannya dengan wujud yang ada di alam ini. Ekspresionisme mengatakan bahwa seni rupa adalah wujud pernyataan perasaan atau isi batin yang dinyatakan secara emosional melalui goresan yang liar serta warna yang mencolok. Sang seniman bebas untuk memilih warna sesuai dengan keinginan subyektifnya sebagai cerminan dari kecemasan dan suasana hatinya yang bergelora. Semangat kebebasan untuk menyatakan perasaan yang digelorakan oleh kaum ekspresionis menyadarkan para pendidik seni rupa bahwa bila seniman dewasa dapat secara bebas menyalurkan perasaannya melalui goresan, warna, atau bentuk, mengapa anak dalam kegiatan menggambar atau melukis harus diatur secara ketat ? Mengapa guru di sekolah tidak berusaha untuk mengikuti perubahan orientasi dalam dunia seni rupa dari upaya meniru gejala alam ke pemberian kebebasan untuk menyatakan perasaan secara subyektif ? Ketiga faktor yang telah disebutkan di atas, secara bersama-sama melahirkan kedsadaran baru di kalangan pendidik untuk mengadakan reformasi terhadap praktik pengajaran seni rupa/menggambar yang dianggap tidak sesuai dengan kondisi alamiah anak. Maka lahirlah pendekatan baru yang kemudian populer dengan nama pendekatan ekspresi bebas.

3. Konsep Dasar Pendekatan Ekspresi Bebas
Franz Cizek dipandang sebagai bapak dari pendekatan ekspresi bebas berkat pandangan dan apa yang dipraktikkannya di tempat ia mengajar. Cizek (dalam Macdonald 1970) mengatakan bahwa seni rupa anak adalah seni rupa yang bisa diciptakan oleh anak dan gambar anak haruslah diberi kekebasan untuk tumbuh bagaikan kembang, bebas dari gangguan orang dewasa. Pernyataan Cizek yang mengatakan “metode adalah racun bagi seni rupa” merupakan tonggak bagi pendekatan ekspresi bebas. Di kelas yang dibinanya ia tidak memberi petunjuk kepada anak kecuali mereka memintanya. Apa yang diberikannya hanyalah simpati dan pengertian untuk merangsang imajinasi anak. Cizek tidak setuju bila anak meniru bentuk alam atau pergi ke museum untuk mengamati karya seniman terkemuka oleh karena menurutnya, ekspresi kreatif haruslah berasal dari dalam diri anak sendiri. Pandangan Franz Cizek ini kemudian menjadi populer dengan nama pendekatan ekspresi bebas atau pendekatan ekspresi kreatif. Dalam pendekatan ekspresi bebas, tugas guru adalah merangsang munculnya ekspresi pribadi sang anak. Cara yang ditempuh oleh guru antara lain dengan memberikan beragam pengalaman atau membentuk anak untuk mengingat pengalaman pribadinya yang tersembunyi.

Dua tokoh yang mengembangkan pendekatan ekspresi bebas adalah Viktor Lovenfeld dan Herbert Read. Viktor Lovenfeld melalui bukunya The Nature of Creative Activity dan Creative and Mental Growth pada dasarnya memusatkan perhatiannya pada pertumbuhan mental dan kreatif anak dan memandang bahwa seni rupa merupakan suatu wahana yang dapat digunakan untuk memudahkan pertumbuhan tersebut. Viktor Lowenfeld sangat dipengaruhi oleh pandangan Freud yang menempatkan seni rupa sebagai wujud ekspresi dari dorongan alam bawah sadar. Seni rupa dapat dianggap sebagai indikator kesehatan jiwa dan ekspresi seni rupa merupakan terapi pembersihan jiwa. Bagi Lowenfeld, ekspresi seni rupa yang dilaksanakan secara alamiah berdampak positif bagi perkembangan intelektual, emosional, kreatifitas dan perkembangan sosial anak. Pendidikan seni rupa seyogyanya menjadi ajang pemberian pengalaman yang menarik yang menyadarkan anak akan lingkungannya. Pendidikan seni rupa hendaknya memperhatikan proses pembelajaran yang terjadi pada diri anak. Pendidik harus mengamati apa yang terjadi pada anak saat ia sedang bergelut dengan media seni rupa. Anak adalah yang utama, sedangkan seni rupa sendiri hanyalah suatu alat. Dilontarkannya gagasan yang menghubungkan antara seni dengan kesehatan mental karena disadari bahwa melalui kegiatan berolah seni, seseorang dapat menyalurkan perasaan, keprihatinan, dan kecemasannya melalui media seni yang mungkin tidak dapat tersalurkan melalui media yang lainnya.

Herbert Read terkenal dengan gagasannya Education Through Art yang menekankan bahwa naluri berolah seni bagi anak adalah suatu yang universal, sesuatu yang tumbuh secara alamiah pada diri anak dalam mengkomunikasikan dirinya. Orang dewasa atau pendidik tidak seyogyanya mengintervensi hal tersebut melalui berbagai dalih seperti demi adat istiadat, persaingan kerja, pembentukan karakter atau pendisiplinan jiwa. Pendeknya ekpresi diri tidak bisa diajarkan dan peranan guru hanyalah sebagai fasilitator.

4. Implementasi Pendekatan Ekspresi Bebas
Pendekatan ekspresi bebas secara murni diimplementasikan oleh pendidik seni yang dalam merancang kegiatan pembelajarannya menggunakan model emerging curriculum yakni kegiatan pembelajaran yang tidak dirancang sebelumnya tetapi berkembang sesuai dengan keinginan anak. Dengan cara ini, guru menanyakan kepada anak kegiatan apa yang ingin dilakukannya dan kemudian menyiapkan segala sesuatunya untuk memberikan kemudahan bagi anak dalam melaksanan kegiatannya itu. Ada kemungkinan oleh karena suatu hal akan berubah pikiran, maka guru pun harus segera menyesuaikan diri dengan keinginan anak. Pendekatan ekspresi bebas ini lebih cocok apabila dilakukan di sanggar seni yang bersifat non formal, sementara untuk sekolah formal yang memiliki kurikulum serta jadwal yang ketat sulit untuk dilakukan.

Karena kesulitan menerapkan pendekatan ekspresi bebas secara murni di sekolah, maka pendidik seni mengembangkan pendekatan ekspresi bebas yang bersifat terarah. Dengan pendekatan yang terarah ini, guru melaksanakan kegiatan pembelajaran sesuai dengan jadwal yang ditetapkan akan tetapi dengan siasat tertentu agar supaya anak dapat mengekspresikan didrinya sesuai dengan apa yang diharapkan. Siasat tersebut berupa pemanasan untuk merangsang dan memberikan motif berekspresi kepada anak. Kegiatan pemanasan antara lain:(1) berceritera atau berdialog dengan anak untuk membangkitkan perhatian dan merangsang lahirnya motif yang dapat dijadikan dasar dalam berkarya. Tema ceritera atau dialog akan menarik bila guru memperlihatkan foto, gambar atau film,(2) memberikan anak pengalaman kontak langsung dengan alam secara sadar misalnya dengan mengajak anak mencermati keadaan sekelilingnya yang mungkin selama ini diabaikan, (3) mendemonstrasikan proses penciptaan karya seni yang akan diajarkan. Pemberian motivasi kepada siswa dapat dilaksanakan dalam waktu yang singkat (kurang dari 5 menit) atau 10 sampai 15 menit. Pembangkitan motivasi dalam bentuk kontak langsung dengan alam memerlukan waktu yang relatif lama akan tetapi kegiatan ini dapat dirangkaikan dengan kegiatan lain (misalnya berdarmawisata) sehingga tidak perlu mengambil waktu yang tersedia di kelas. Pada saat menjelang praktik, guru tinggal memencing ingatan siswa tentang apa yang telah diamatinya untuk membengkitkan motivasinya.

Setelah siswa termotivasi, maka siswa diminta untuk mengekspresikan diri secara bebas. Peran guru pada saat berlangsung ekspresi tersebut adalah mendampingi siswa untuk ,memberikan bantuan dan pujian bila diperlukan. Dalam kaitannya dengan penilaian, maka guru harus kembali pada filosofi pendekatan ekspresi bebas bahwa ekspresi anak bersifat unik dan alamiah dan tidakl ada istilah benar dan salah dalam mengekspresikan dirinya melalui seni. Penilaian yang diberikan bersifat apresiatif yaitu bersifat menerima dan menghargai apa yang diungkapkan atau diciptakan oleh anak dengan menunjukkan kemungkinan peningkatan kualitas dari karya yang diciptakannya tersebut.

Pembelajaran Seni Budaya melalui Pendekatan Disiplin
Konsep Dasar Pendidikan Seni Berbasis Disiplin
Dipandangnya seni sebagai disiplin ilmu merupakan asumsi pokok yang mendasari konsep pendekatan ini. Disiplin ilmu dalam pengertian ini sebagaimana yang diungkapkan oleh Dobbs (1992: 9) adalah bidang studi yang bercirikan (1) memiliki isi pengetahuan (body of knowledge), (2) adanya masyarakat pakar yang mempelajari ilmu tersebut, serta (3) tersedianya metode kerja yang memfasilitasi kegiatan eksplorasi dan penelitian.
Chapman (1978) berpendapat bahwa pendidikan seni yang memberikan kesempatan pada anak untuk mengekspresikan emosinya adalah penting, tetapi jangan karena itu, kegiatan mempelajari ilmu seni diabaikan. Menurut Eisner (1987/1988) menegaskan bahwa pendidikan seni berbasis disiplin bertujuan menawarkan program pembelajaran yang sistematik dan berkelanjutan dalam empat bidang yang digeluti orang dalam dunia seni yaitu bidang penciptaan, penikmatan, pemahaman dan penilaian. Keempat bidang tersebut haruslah tercermin dalam kurikulum. Anak hendaknya tidak hanya diberi kesempatan berekspresi/menciptakan karya seni tetapi mereka juga perlu mempelajari bagaimana caranya menikmati suatu karya seni, dan memahami konteks dari sebuah karya seni. Keempat bidang tersebut hendaknya diajarkan secara terpadu.

Karena pendidikan seni berbasis disiplin merupakan suatu pendekatan dan bukan suatu metode yang spesifik, maka ia tampil dalam wujud yang bervariasi. Dibalik sifatnya yang bervariasi, pendidikan seni berbasis disiplin memiliki ciri khusus yaitu : (1) seni diajarkan sebagai sebuah subyek dalam konteks pendidikan umum dengan kurikulum yang tertulis serta disusun secara sistematis mencakup kegiatan ekspresi/kreasi, teori, dan kritik/apresiasi seni. Pelajaran tersebut membangun pengetahuan, pemahaman, dan keterampilan dalam disiplin seni yang memungkinkan dievaluasi secara tepat. (2) Kemampuan anak dikembangkan untuk mampu menghasilkan karya seni (prosuksi seni); menganalisis, menafsirkan dan menilai kualitas karya (kritik seni); mengetahui dan memahami peran seni dalam masyarakat (sejarah seni) serta memahami keunikan karya seni dan bagaimana orang memberikan penilaian dan menguraikan alasan penilaian tersebut (estetika).

Dobbs (1992 : 71-76) menguraikan secara terperinci cakupan keempat mata pelajaran yang disebutkan tersebut yang seyogyanya mendapat perhatian para guru: (1) Studio/produksi seni adalah disiplin dalam hal penciptaan seni yang merupakan proses kreatif melalui pengolahan beragam materi untuk menciptakan efek rupa (visual) yang diinginkan. (2) kritik seni adalah disiplin yang memfokuskan perhatian pada persepsi dan deskripsi untuk menjawab pertanyaan tentang apa yang diamati pada suatu karya seni, analisis dan penafsiran untuk menjelaskan makna dari apa yang diamati serta penilaian yang menggambarkan kualitas karya yang diamati, (3) Sejarah seni adalah disiplin yang memfokuskan perhatian pada peran seni dan seniman dalam konteks sosial, politik, dan budaya. (4) Estetika adalah disiplin yang mendiskusikan hakikat dan makna seni, pengalaman keindahan dan sumbangannya terhadap kehidupan dan kebudayaan manusia. Estetika dalam konteks pembelajaran di sekolah haruslah disesuaikan dengan tingkat kematangan intelektual dan kejiwaan anak.

Perbedaan antara pendidikan seni berbasis disiplin dengan pendekatan ekaspresi bebas tidak hanya terletak pada kekomprehensifan cakupan kegiatan yang ditawarkan, tetapi juga pada bagaimana filosofi program dan cara membelajarkan anak. Pada pendekatan ekspresi bebas, anak diperlakukan secara istimewa dengan membiarkannya untuk secara bebas menyatakan apa yang ingin diekspresikannya. Guru tidak diijinkan mengintervensi. Peran guru hanyalah memberikan kemudahan bagi anak dalam berekspresi. Maka lahirlah kurikulum yang dikenal dengan emerging curriculum, seuatu kurikulum yang tidak siap pakai tetapi disusun mengikuti kehendak anak pada suatu kegiatan pembelajaran. Anaklah yang menentukan mengenai pengalaman belajar apa yang akan dilakukannya. Berdasarkan keinginan sang anak, maka guru pun menyiapkan fasilitas. Pada pendidikan seni berbasis disiplin, kurikulum yang digunakan bersifat siap pakai dengan program yang tersusun secara sistematis. Dengan mengacu pada kurikulum siap pakai inilah, guru melaksanakan pembelajaran. Jeffers membendingkan kedua pendekatan ini dengan menggunakan metafora pertumbuhan alamiah dengan metafora pembentukan. Metafora pertumbuhan alamiah mengandaikan anak sebagai sekuntum bunga atau tanaman, guru sebagai tukang kebun dan sekolah sebagai kebun. Guru sebagai tukang kebun haruslah menciptakan suasana sedemikian rupa sehingga anak sebagai tanaman tumbuh secara subur dan alamiah. Pada sisi lain, metafora pembentukan memandang anak sebagai tanah liat dan guru sebagai pematung. Anak sebagai tanah liat berada pada posisi untuk memilih atau menolak bentuk akhir dari dirinya sendiri.

Pembelajaran Seni Budaya melalui Pendekatan Multikultural
1. Pengertian Pendidikan Seni Berbasis Multikultural
Pendidikan seni multikultural merupakan pendekatan pendidikan yang mempromosikan keragaman budaya melalui kegiatan penciptaan, penikmatan dan pembahasan keindahan rupa (visual).

2. Latar Belakang Kelahiran Pendidikan Seni Multikultural
Pendidikan seni multikultural lahir sebagai salah satu bagian dari pendidikan multikultural. Ada beberapa faktor yuang secara bersama-sama melatar belakangi kelahiran pendidikan multikultural yaitu : (1) ketidakadilan dalam masyarakat, (2) kebutuhan akan identitas, (3) keadaan geografis yang berubah, (4) keinginan untuk menghilangkan prasangka buruk, (5) konsekuensi munculnya seni rupa posmodernisme.

Ketidakadilan dalam Masyarakat
Pendidikan multikultural lahir di awal tahun 1960 an di tengah gencarnya hak sipil di amerika Serikat. Gerakan sipil ini berlangsung secara besar-besaran melalui demonstrasi di jalan-jalan setelah perjuangan melalui kantor pemerintah, lembaga legislatif, dan ruang pengadilan tidak membuahkan hasil. Mereka memperjuangkan persamaan hak, keadilan politik, dan kemudahan untuk mereformasi keadaan. Pendidikan multikultural dipandang sebagai cara yang tepat untuk mereformasi sistem pendidikan agar mampu merespon tuntutan masyarakat akan pendidikan yang adil bagi semua kelompok ras, suku dan budaya. Seperti diketahui bahwa kehidupan sosial di amerika Serikat pada masa itu sangat didominasi oleh orang kulit putih, sementara orang kulit hitam dan merah tersingkirkan. Dominasi suatu ras, suku inilah yang memicu lahirnya gerakan pendidikan multikultural di berbagai belahan dunia.

Kebutuhan akan Identitas
Sejalan akan keinginan untuk menciptakan sistem kehidupan poliyik, sosial dan ekonomi yang lebih adil bagi semua, muncul pula kebutuhan akan identitas diri bagi sekelompok masyarakat yang selama ini kurang mendapatkan peluang untuk menyatakan identitas dirinya. Kebutuhan akan identitas diri disuarakan oleh budayawan dan pendidik yang semakin menyadari bahwa lembaga pendidikan mestilah menghormati warisan budaya muridnya dan bahwa murid mempunyai hak untuk mengetahui warisan budayanya dan membangun rasa kebanggaan akan budayanya itu. Para budayawan dan pendidik mencemaskan pengaruh budaya global yang secara sistematis menggusur budaya lokal atau sekelompok yang senantiasa terpaksa harus menerima standar atau nilai yang didiktekan oleh budaya global agar bisa bertahan hidup. Kecemasan ini dapat dipahami oleh karena budaya lokal memiliki keunikan masing-masing karena ia tumbuh dan berkembang sejalan dengan kebutuhan dan cara kelompok pendukungnya mengatur dan memecahkan persoalan hidupnya. Salah satu peluang untuk menyatakan identias diri ini adalah melalui kegiatan seni. Kegiatan seni dianggap potensial karena mampu mengekspresikan identitas diri kelompok secara alamiah. Melalui seni, simbol budaya, mitos, keyakinan, ketakutan dan harapan dari suatu kelompok dapat dinyatakan secara efektif dan otentik. Seni juga mencerminkan kecerdasan lokal dalam pemanfaatan bahan dan tekni yang tersedia untuk menafsirkan pengalaman budaya yang khas.

Keadaan Demografis yang Berubah
Perubahan komposisi penduduk berdampak terhadap dunia pendidikan. Program pendidikan yang ditawarkan diharapkan seyogyanya peduli terhadap kondisi dan latar belakang murid. Kesadaran akan perlunya mempertimbangkan latar belakang budaya murid, secara alamiah melahirkan pendidikan seni multikultural di sekolah.

Keinginan untuk Menghilangkan Prasangka Buruk
Kesadaran akan perlunya untuk menghilangkan prasangka buruk terhadap suatu kelompok etnis dan budaya inilah, merupakan salah satu pendorong kelahiran pendidikan seni multikultural.

Konsekuensi munculnya Seni Posmodern
Munculnya seni posmodernisme melahirkan tuntutan bagi dunia pendidikan untuk mengakomodasi konsep ini dalam program pembelajarannya. Posmodernisme yang kelahirannya didorong oleh keinginan untuk merayakan keragaman sosial dan budaya, menolak dominasi seni mimesis dan modern dalam pembelajaran di sekolah. Pada kenyataannya tidak semua model pembelajaran dalam pendidikan multikultural yang sejalan dengan gagasan posmodernisme, sebagian yang lain justru tidak sejalan.

3. Konsep Dasar Pendidikan Seni Multikultural
Pendidikan seni multikultural pada dasarnya merupakan sebuah filosofi, gagasan besar atau pendekatan, di atas mana beragam program pembelajaran dikembangkan. Karena sifatnya yang demikian maka pendidikan seni multikultural tidak identik dengan model pembelajaran tertentu. Cirinya yang esensiil hanyalah pada semangat untuk mempromosikan keragaman budaya melalui kegiatan seni. Spektrum pendidikan multikultural secara faktual tercermin pada kegiatan pendidikan seni yang dikelompokkan atas tiga model yaitu model pengenalan, model pengamalan, dan model perombakan.

Model Pengenalan
Model pengenalan bertujuan untuk memperkenalkan seni secara teoretis, apresiatif dan praktis dari berbagai kelompok suku, ras, agama, kelas sosial, jenis kelamin, pandangan, atau kondisi tertentu. Pengenalan ini dimaksudkan untuk memperluas wawasan murid agar dapat memahami orang lain dan karya seni yang diciptakannya yang mungkin saja sangat berbeda dengan keyakinan dan tradisi yang dianut oleh murid. Pembelajaran yang dilakukan dapat berupa kegiatan kurikuler atau ekstra kurikuler. Pembelajaran ini dapat diterapkan pada sekolah atau kelas yang bersifat monokultur maupun kelas yang muridnya memiliki latar belakang suku, ras, agama atau kondisi sosial yang beragam (multietnis/multikultur). Berbagai metode pembelajaran dapat digunakan oleh guru untuk memperkenalkan seni dengan segala aspeknya dari berbagai kelompok masyarakat ini misalnya ceramah yang dilengkapi dengan media pandang dengar, diskusi, praktik studio, studi lapangan dan sebagainya.

Model Pengamalan
Model pengamalan secara khusus diterapkan pada kelas yang bersifat multikultur. Disebut model pengamalan, karena model ini mengakui adanya keragaman dan berusaha untuk mengamalkan ide persamaan dalam keragaman tersebut secara sistemik dan sistematis dalam kegiatan pembelajaran. Kegiatan pembelajarannya dirancang sedemikian rupa sehingga setiap murid yang berasal dari berbagai latar belakang suku, ras, agama, kelas sosial, jenis kelamin, pandangan , dan kondisi tertentu, mendapatkan kesempatan yang sama untuk belajar. Jika pada model pengenalan, guru masih dapat melaksanakan kegiatan pembelajaran secara tradisional karena ia sekedar memperkenalkan wajah seni dari berbagai latar, maka pada model pengamalan, guru ditantang untuk tidak hanya memperkenalkan keragaman serta persamaan hak dalam keragaman yang diperjuangkan oleh kaum multikulturalis, tetapi mengimplementasikan cita-cita tersebut secara nyata di kelas. Di sini, masalah teknis pembelajaran hanyalah faktor sekunder, sedangkan faktor primer adalah adanya sikap yang positif dari guru tentang persamaan dalam keragaman yang ditandai oleh semangat untuk mengamalkannya.

Agar supaya model pengamalan ini dapat terlaksana dengan baik maka lingkungan sekolah pertama-tama harus dibuat kondusif, misalnya tidak adanya perlakuan deskriminatif atas dasar latar belakang murid. Untuk membangun suasana yang non-deskriminatif ini, maka guru dan pegawai yang menjadi fasilitator di sekolah seyogyanya merefleksikan pula keragaman latar belakang murid. Demikian pula dengan kebijakan sekolah, yang tercermin pada aturan dan kurikulum, semuanya harus bersifat serba melingkupi sehingga murid merasakan bahwa keyakinan tradisi keluarga, dan kondisi sosialnya diterima dan dihormati.

Pada model pengamalan, konsep yang digunakan dalam merancang kegiatan pembelajaran adalah konsep yang bersifat terbuka. Artinya guru harus menggunakan konsep seni yang dimaknai dan difungsikan secara beragam. Dalam kehidupan nyata, seni memang memiliki arti dan fungsi yang bervariasi seperti : mengekspresikan perasaan, memperindah sesuatu, menceritakan pengalaman, mendokumentasikan kejadian, mengkritik, menghibur, memperingati peristiwa, menampilkan simbol budaya, merangsang imajinasi, menghasilkan nilai ekonomis, dan lainnya. Dengan demikian menjadi tantangan bagi guru seni untuk memilih tema pembelajaran yang dapat ditafsirkan secara bebas oleh murid sesuai dengan pengalaman, tradisi, dan keinginannya masing-masing.

Penerapan model pengamalan ini dalam praktik studio (penciptaan karya seni) dapat dimulai dengan memilih tema penciptaan. Salah satu cara yang disarankan adalah dengan meggali tema dari murid. Dengan demikian tema penciptaan tidak seragam tetapi bervariasi sesuai dengan latar belakang murid. Selain itu tema dapat dipilih dengan menggali budaya dan karakteristik lokal tempat sebuah sekolah berada.
Tema yang sudah dipilih kemudian diwujudkan secara visual dengan menggunakan media sesuai dengan keinginan murid. Tidak ada media yang lebih unggul dari media lainnya, demikian pula tidak ada teknik mengolah media yang lebih baik dari teknik lainnya. Penerapan model pengamalan ini dalam pembelajaran yang bersifat teoretis (estetika, sejarah seni) atau apresiatif (kritik seni) juga harus berpijak pada keragaman seni dengan prinsip bahwa tiap karya seni memiliki makna, dan kriteria keindahannya masing-masing. Menjadi tugas guru untuk memperkenalkan makna dan kriteria keindahan setiap karya yang dibahas dalam setiap kegiatan pembelajaran. Upaya pengenalan ini dapat dilakukan dengan cara menginformasikan secara langsung, menyiapkan bahan bacaan atau menghadirkan orang yang berkompeten mengenai masalah yang dibahas. Dengan pemahaman yang baik, maka murid dapat memiliki bekal yang relevan dalam merasakan nilai artistik yang dimiliki oleh sebuah karya seni.

Model Perombakan
Pendidikan seni multikultural model perombakan merasa tidak puas dengan sekedar mengamalkan gagasan keragaman budaya dan sosial, karena kondisi masyarakat saat ini tidak kondusif karena masih maraknya ketidakadilan atas dasar suku, ras, agama, kondisi sosial, jenis kelamin, atau pandangan yang dianut.

Menurut Stuhr, Petrovich Mwaniki dan Wasson (dalam Salam, 2005) mengidentifikasi lima langkah dalam mengembangkan kurikulum pendidikan seni multikultural yaitu : (1) guru menganalisa dan memperbaiki sikap negatif yang dimiliki terhadap pluralisme sosial dan keragaman suku, (2) guru dan siswa melakukan analisis situasi agar akrab dengan masyarakat, (3) guru dan murid memilih bahan kurikulum yang relevan dan sekaligus menarik, (4) guru dan murid secara berkolaborasi menyelidiki persoalan yang berkaitan dengan bahan kurikulum yang telah dipilih, (5) guru melaksanakan program evaluasi baik baik formatif maupun sumatif.

Latihan
Buatlah sebuah kelompok kecil, yang terdiri dari satu orang sebagai guru, tiga orang sebagai pengamat, dan 11 orang sebagai siswa. Pilihlah salah satu pendekatan ekspresi bebas, disiplin dan multikultural untuk melaksanakan proses pembelajaran seni budaya dalam kelompok tersebut. Kemudian diskusikan dengan anggota kelompok anda hasil dari pembelajaran seni budaya melalui pendekatan yang dipilih. Presentasikan hasil diskusi tersebut.

Lembar Kegiatan
1. Alat dan Bahan
a. Video visual tari dan VCD
b. Foto
c. Kaset dan tape recorder
2. Keselamatan dan Kesehatan Kerja
3. Prasyarat
4. Langkah Kegiatan Pembelajaran seni dan budaya melalui pendekatan ekspresi bebas
a. Guru menunjukkan rekaman video visual, foto sebagai bahan pengamatan atau
apresiasi kepada siswa disertai cerita tentang video dan foto tersebut.
b. Siswa melakukan pengamatan dengan memperhatikan video visual dan foto yang
disampaikan guru.
c. Siswa memberikan penilaian terhadap obyek yang dilihat dan menghayati.
d. Siswa mengekspresikan obyek yang dilihat.
e. Siswa dengan panduan guru membuat kreasi baru berdasarkan obyek yang
dilihat dalam proses apresiasi.
5. Hasil
Setelah siswa melakukan proses apresiasi seni, siswa mampu melakukan penilaian sekaligus penghayatan terhadap karya seni. Hasil dari proses apresiasi tersebut, siswa mampu mengekspresikan kembali karya seni yang dilihatnya dengan proses meniru. Selanjutnya karya seni yang diekspresikan tersebut dieksplor kembali menjadi sebuah karya seni baru hasil dari kreasi siswa sendiri dengan panduan guru.

Rangkuman
Pendekatan ekspresi bebas bercirikan pemberian kesempatan bagi anak untuk menyatakan dirinya secara tidak terganggu melalui seni dalam kegiatan pembelajaran. Salah satu alasan utama mengapa mata pelajaran menggambar digantikan namanya karena pada mata pelajaran menggambar melekat citra sebagai pelatihan teknik keterampilan belaka yang tidak perduli akan kebutuhan kejiwaan anak . Metode pengajaran menggambar seperti disebutkan di atas, lambat laun dianggap tidak layak untuk dilakukan. Berbagai faktor yang menjadi pemicu lahirnya anggapan tersebut antara lain adalah (1) temuan berbagai studi tentang anak, (2) pengaruh pandangan Freud, (3) terjadinya gerakan pembaruan dalam dunia seni rupa. Dalam pendekatan ekspresi bebas, tugas guru adalah merangsang munculnya ekspresi pribadi sang anak. Cara yang ditempuh oleh guru antara lain dengan memberikan beragam pengalaman atau membentuk anak untuk mengingat pengalaman pribadinya yang tersembunyi.

Pendidikan seni berbasis disiplin bertujuan menawarkan program pembelajaran yang sistematik dan berkelanjutan dalam empat bidang yang digeluti orang dalam dunia seni yaitu bidang penciptaan, penikmatan, pemahaman dan penilaian. Keempat bidang tersebut haruslah tercermin dalam kurikulum. Anak hendaknya tidak hanya diberi kesempatan berekspresi/menciptakan karya seni tetapi mereka juga perlu mempelajari bagaimana caranya menikmati suatu karya seni, dan memahami konteks dari sebuah karya seni.Pendidikan seni multikultural merupakan pendekatan pendidikan yang mempromosikan keragaman budaya melalui kegiatan penciptaan, penikmatan dan pembahasan keindahan rupa (visual).

Test Formatif
Tes Obyektif

1. Dalam pendidikan seni budaya ada beberapa pendekatan yang bisa dipakai dalam proses pembelajaran kecuali. :
a. Pembelajaran seni melalui pendekatan ekspresi bebas
b. Pembelajaran seni melalui pendekatan diseiplin
c. Pembelajaran seni melalui pendekatan multikultural
d. Pembelajaran seni melalui pendekatan multidimensional

2. Metode pengajaran menggambar yang mengutamakan anak untuk terampil menggambar lambat laun dianggap tidak layak untuk dilakukan. Hal ini dipicu oleh beberapa faktor, kecuali :
a. Temuan berbagai studi tentang anak
b. Pengaruh pandangan Freud
c. Terjadinya gerakan pembaharuan dalam seni rupa
d. Kelompok yang menentang

3. Kurikulum yang tidak dirancang sebelumnya tetapi berkembang sesuai keinginan anak disebut :
a. emerging curriculum
b. vertical curricullum
c. horisontal curricullum
d. ekspress curricullum
4. Dua tokoh seni yang mendukung konsep pendekatan ekspresi bebas adalah :
a. Viktor Lowenfeld dan Herbert Read
b. Viktor Lowenfeld dan Eisner
c. Viktor Lowenfeld dan Freud
d. Herbert Read dan Eisner

5. Konsep pendidikan seni yang memberikan kesempatan kepada anak untuk mengekspresikan emosinya adalah penting, tetapi juga tidak boleh mengabaikan kegiatan mempalajari ilmunya, disebut pendekatan :
a. Pendidikan ekspresi bebas
b. Pendidikan displin
c. Pendidikan multikultural
d. semuanya benar

6. Ada beberapa faktor yang melatar belakangi lahirnya pendekatan multikultural, diantaranya adalah :
a. Ketidakadilan dalam Masyarakat
b. Kebutuhan akan Identitas Diri
c. Keadaan Demografis yang Berubah
d. Semua benar
7. Ada tiga model dalam pembelajaran multikultural yaitu :
a. Model pengenalan, pengamalan, perombakan
b. Model pengenalan, penjiplakan, perombakan
c. Model pengenalan, observasi, perombakan
d. Semua salah

8. Cara untuk memperluas wawasan murid agar dapat memahami orang lain dan karya seni yang diciptakannya disebut :
a. Model perombakan
b. Model pengamalan
c. Model pengenalan
d. Model penjiplakan
9. Pembelajaran multikultural adalah model pembelajaran yang menekankan pada :
a. budaya
b. seni
c. seni budaya daerah lain
d. seni budaya daerah sendiri
10. Pendekatan ekspresi bebas adalah pendekatan :
a. ekspresi sebebas-bebasnya
b. ekspresi bebas tapi terikat
c. ekspresi bebas dengan panduan
d. ekspresi bebas dengan syarat
Kunci Jawab Tes Obyektif
1. d
2. d
3. a
4. a
5. b
6. d
7. a
8. c
9. c
10. a


Tes Uraian
1. Jelaskan dengan singkat bagaimanakah konsep dasar ekspresi bebas ?

Kunci Jawab :
Pendekatan ekspresi bebas bercirikan pemberian kesempatan bagi anak untuk menyatakan dirinya secara tidak terganggu melalui seni dalam kegiatan pembelajarannya.

2. Jelaskan dengan singkat bagaimanakah penerapan pendekatan ekspresi bebas dalam pembelajaran seni tari ?
Kunci Jawab :
Siswa diberi materi awal untuk apresiasi, dilanjutkan dengan proses ekspresi kemudian diakhiri dngan proses kreasi.

3. Jelaskan dengan singkat bagaimanakah konsep pendidikan seni berbasis disiplin?
Kunci Jawab :
Pendidikan seni berbasis disiplin bertujuan menawarkan program pembelajaran yang sistematik dan berkelanjutan dalam empat bidang yang digeluti orang dalam dunia seni yaitu bidang penciptaan, penikmatan, pemahaman dan penilaian. Keempat bidang tersebut haruslah tercermin dalam kurikulum. Anak hendaknya tidak hanya diberi kesempatan berekspresi/menciptakan karya seni tetapi mereka juga perlu mempelajari bagaimana caranya menikmati suatu karya seni, dan memahami konteks dari sebuah karya seni

4. Bagaimanakah perbedaan antara pendekatan ekspresi bebas dengan pendekatan disiplin !
Kunci Jawab :
Perbedaan antara pendidikan seni berbasis disiplin dengan pendekatan ekaspresi bebas tidak hanya terletak pada kekomprehensifan cakupan kegiatan yang ditawarkan, tetapi juga pada bagaimana filosofi program dan cara membelajarkan anak. Pada pendekatan ekspresi bebas, anak diperlakukan secara istimewa dengan membiarkannya untuk secara bebas menyatakan apa yang ingin diekspresikannya. Guru tidak diijinkan mengintervensi. Peran guru hanyalah memberikan kemudahan bagi anak dalam berekspresi.

5.Jelaskan dengan singkat bagaimanakah konsep dasar pendekatan multikultural ?
Kunci Jawab :
Pendidikan seni multikultural merupakan pendekatan pendidikan yang mempromosikan keragaman budaya melalui kegiatan penciptaan, penikmatan dan pembahasan keindahan rupa (visual).

Daftar Pustaka

Eisner, Elliiot W dan David W. Ecker. 1966. Readings in Art Education. Massachusetts : Blaisdell
Goldberg, Merryl. 1997. Arts and Learning. New York : Longman

Salam, Sofyan. 2003. Menelusuri Tujuan Pendidikan Seni Rupa di Sekolah. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan. Tahun ke-9, No. 040. hal 76-94.

Salam, Sofyan. 2001. Penilaian Portofolio dalam Pendidikan Seni Rupa : Landasan dan Model. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan. Tahun ke-7 No. 029. hal 232-244.

Salam, Sofyan. 2001. Pendekatan Ekspresi Diri, Disiplin dan Multikultural dalam Pendidikan Seni Rupa. Wacana Seni Rupa. Vol. 1 no. 3 hal 12-22.

0 komentar:

:)) ;)) ;;) :D ;) :p :(( :) :( :X =(( :-o :-/ :-* :| 8-} :)] ~x( :-t b-( :-L x( =))

Poskan Komentar

 
Namablogkamu is proudly powered by Blogger.com | Template by o-om.com