Jumat, 29 Mei 2009

. Jumat, 29 Mei 2009

SENI PERTUNJUKAN WISATA SEBAGAI INDUSTRI EKONOMI KREATIF

Eny Kusumastuti



PENDAHULUAN
Seni pertunjukan dan Pariwisata merupakan dua kegiatan yang saling memiliki keterkaitan yang sangat kuat. Seni pertunjukan dalam konteks industri pariwisata telah menjadi atraksi atau daya tarik wisata yang sangat penting dan menarik, khususnya apabila dikaitkan dengan kegiatan wisata budaya. Seni pertunjukan yang didalamnya antara lain mencakup seni tari, seni musik maupun seni pentas lainnya baik tradisional maupun modern, di berbagai daerah tujuan wisata di Indonesia telah berkembang dan banyak dikemas untuk konsumsi wisatawan, yang digelar di gedung-gedung pertunjukan atau teater bahkan di area terbuka di halaman suatu lingkungan pedesaan yang khas. Demikian halnya seni rupa, yang di dalamnya mencakup karya-karya seni lukis, seni patung dan seni kerajinan telah mampu menempatkan daya tariknya sebagai suatu obyek seni yang memiliki nilai apresiasi sangat tinggi yang digelar di galery-galery seni maupun sebagai unsur kenangan khas yang perlu dibawa oleh wisatawan sebagai cinderamata.

Dari sudut pandang kesenian, maka berkembangnya industri pariwisata secara nyata telah mendorong tumbuhnya kreativitas pelaku seni untuk mengembangkan karya ciptanya sehingga mampu menarik minat pengunjung ataupun wisatawan. Dalam hal seni pertunjukan, maka kreativitas tersebut harus mampu diwujudkan dalam koreografi yang menarik, atraktif, dan mampu menyajikan pesan serta cerita yang utuh bagi wisatawan dalam rentang waktu kunjungannya yang terbatas. Demikian halnya dalam konteks seni rupa, tumbuhnya sektor pariwisata telah membuka pangsa pasar baru yaitu dari kalangan wisatawan, disamping pemerhati dan pencinta karya seni dari kalangan kolektor. Oleh karenanya, seniman memiliki kesempatan yang lebih luas lagi untuk mengembangkan kreativitasnya dalam menciptakan karya seni untuk kategori pasar yang berbeda, dengan karya-karya seni kriya yang eksklusif untuk kalangan kolektor dan karya seni untuk memenuhi minat wisatawan sebagai suatu bentuk cinderamata.
Berhubungan dengan pasar, seni pertunjukan memperhatikan kebutuhan masyarakat. Hal ini sejalan dengan pendapat Riantiarno (1993: 3) bahwa suatu pertunjukan tidak dapat memaksa siapapun untuk membeli barang yang dirasakan sebagai kebutuhannya. Dalam dunia seni pertunjukan, selera atau keinginan masyarakat sering tidak mendapat perhatian, padahal pengetahuan dan penguasaan terhadap selera masyarakat sangat penting untuk menentukan pasar. Sebagai upaya menanggapi dan menguasai selera masyarakat, dituntut suatu kreativitas sehingga selalu dapat menemukan hal yang baru, yang pada gilirannya dapat mempengaruhi pasar.

Masalah yang perlu dikaji adalah: (1) keterkaitan antara seni pertunjukan dengan pariwisata, dan (2) seni pertunjukan wisata sebagai industri ekonomi kreatif.

KETERKAITAN ANTARA SENI PERTUNJUKAN DENGAN PARIWISATA
Pariwisata adalah segala kegiatan dalam masyarakat yang berhubungan dengan wisatawan (Soekadijo 1997: 2). Kata wisata menyangkut pengertian perjalanan, sedangkan pariwisata menyangkut pengertian perjalanan ditambah dengan unsur jasa atau badan usaha. Sementara kepariwisataan mengandung aspek perjalanan, badan usaha dan fungsi pemerintah (Ardika 1993: 197). Pariwisata dan kepariwisataan adalah industri modern yang kini berkembang dengan pesat. Perhatian dunia terhadap kepariwisataan sangat besar yang ditandai dengan kemajuan di bidang pembangunan infrastruktur maupun suprastruktur baik di negara-negara maju maupun berkembang. Kepariwisataan sebagai komoditas penghasil devisa hampir menjadi andalan setiap negara di dalam meningkatkan penghasilan perkapita masyarakat melalui keuntungan yang bersumber dari wisatawan lokal, maupun wisatawan mancanegara.

Keterkaitan dan pelayanan jasa pariwisata, meliputi: motif wisata, kebutuhan wisata, atraksi wisata dan jasa wisata berhadapan dengan matra sosial, terutama mengacu kepada peningkatan pelayanan yang sarat dengan implikasi ekonomis. Faktor ekonomi sangat berperan dan bahkan merupakan tujuan. Seperti yang dikatakan oleh Soekadijo (1997: 25) bahwa pariwisata adalah suatu gejala sosial yang sangat kompleks, yang menyangkut manusia seutuhnya dan memiliki berbagai aspek: sosiologis, psikologis, ekonomis, ekologis dan sebagainya. Aspek yang mendapat perhatian paling besar dan hampir merupakan satu-satunya aspek yang dianggap penting adalah aspek ekonomis. Dengan dominannya aspek ekonomis tersebut, membawa dampak yang cukup besar bagi perubahan struktur masyarakat.

Seni pertunjukan sebagai satu unsur kesenian memiliki peran yang sangat menonjol dalam konteks kegiatan kepariwisataan, bahkan sebenarnya telah menunjukkan posisinya sekaligus sebagai komponen daya tarik wisata. Karenanya peran dan kontribusi seni pertunjukan terhadap perkembangan kepariwisataan tidak perlu dipertanyakan lagi. Bahkan di beberapa daerah yang memiliki potensi obyek dan daya tarik wisata budaya, keberadaan seni pertunjukan seringkali justru menjadi salah satu daya tarik utama wisatawan untuk berkunjung ke daerah tersebut bukan sekedar sebagai atraksi suplemen (pelengkap).

Perhatian dan minat terhadap seni pertunjukan tradisional memang masih merupakan motivasi yang dominan dari wisatawan untuk melihat keunikan dan keautentikan unsur-unsur budaya lokal. Namun demikian bukan berarti seni pertunjukan modern/kontemporer belum banyak diminati. Pementasan seni pertunjukan modern/kontemporer di beberapa kota besar bahkan telah banyak menunjukkan agenda pementasan yang tetap/berkala, sehingga lambat laun akan mampu menarik minat dan apresiasi yang lebih luas baik dari kalangan masyarakat umum maupun khususnya wisatawan.

Nilai strategis yang dapat dicapai melalui upaya pengembangan seni pertunjukan dalam kiprahnya yang lebih luas dalam perkembangan kepariwisataan nasional, adalah dalam upaya pembentukan citra yang positif yang akan memberikan keunggulan komparatif dalam persaingan global/regional, di sisi lain, upaya-upaya untuk memacu pengembangan seni pertunjukan merupakan langkah strategis untuk melestarikan dan memacu kreativitas budaya, disamping sebagai upaya untuk memberdayakan masyarakat/komunitas seni pertunjukan.

SENI WISATA SEBAGAI INDUSTRI EKONOMI KREATIF
Di Indonesia, jenis wisata yang dikembangkan adalah jenis wisata budaya dan wisata alam. Wisata budaya lebih banyak terdapat di Jawa, Bali, dan di Tanah Toraja. Sedangkan wisata alam dikembangkan di Indonesia bagian Timur. Menurut Direktur Jenderal Pariwisata, bahwa wisata asing di Indonesia lama tinggal adalah 11, 7 hari apabila dibandingkan dengan lama tinggal wisatawan di seluruh Asean (Bagus 1991: 171). Dengan demikian pariwisata Indonesia yang bermodalkan budaya serta ditunjang oleh modal keindahan alam adalah sangat potensial dimanfaatkan untuk menarik wisatawan.

Hubungan pariwisata dan pengaruhnya pada kehidupan sosial budaya menurut Clare A. Gunn (Salim 1991: 131) terpola pada lima jalur pokok, yaitu jalur akomodasi, atraksi/kreasi, konsumsi, informasi, dan jalur transportasi. Para wisatawan yang hadir di daerah tertentu akan memerlukan akomodasi yang memadai seperti tempat tinggal di negara/daerah asalnya. Untuk kebutuhan tempat tinggal ini, maka muncul pendirian hotel-hotel sebagai tempat tinggal wisatawan, tempat hiburan, toko souvenir, dan sebagainya. Dengan demikian akan terjadi kompleksitas interaksi yang sangat intensif. Jalur kreasi/atraksi, bahwa wisatawan juga memerlukan hiburan, cinderamata, atau kenang-kenangan yang menjadi ciri khas daerah yang dikunjungi. Maka barang-barang yang dihasilkan atau paket-paket hiburan semuanya berorientasi pada wisatawan dan merupakan produk wisata. Dengan demikian, seni kerajinan dan seni pertunjukan kemasan akan berkembang di masyarakat.

Informasi mengenai keadaan sosial budaya serta obyek-obyek kunjungan sangat penting bagi para wisatawan. Oleh karena itu, penguasaan bahasa asing serta pelayanan kepada wisatawan sejak turun dari pesawat terbang sampai kembali ke negaranya, merupakan keharusan bagi pramuwisata. Kontak langsung dalam kegiatan ini akan mempunyai pengaruh tertentu bagi mayarakat. Kedatangan wisatawan asing/daerah, selain memerlukan akomodasi juga memerlukan konsumsi. Wisatawan tersebut tidak jarang menginginkan makanan atau minuman yang merupakan ciri khas daerah, merupakan produksi masyarakat serta bahannya juga berasal dari daerah yang dikunjungi. Transportasi juga merupakan kebutuhan para wisatawan setelah tiba di tempat tujuan, yang diatur oleh biro perjalanan melalui pramuwisatawan. Maka muncullah berbagai jenis biro perjalanan dan biro usaha seperti penyewaan kendaraan dan sebagainya.
Melalui lima jalur tersebut, apabila dilihat dari sudut ekonomi, menguntungkan bidang-bidang lain, misalnya cadangan devisa, perbaikan prasarana, pemanfaatan produk-produk setempat serta pemerataan kesempatan bekerja dan lain sebagainya. Keuntungan dalam bidang sosial budaya antara lain perluasan pendidikan, saling pengertian dan saling menghargai, toleransi, pengurangan kesenjangan pemisah yang bersifat SARA atau yang menyangkut status sosial. Sedangkan pengaruh negatif dalam bidang sosial budaya antara lain adalah peng-komersialisasikan budaya seni ataupun agama, perjudian, prostitusi, kejahatan narkoba (Boedihardjo 1991:67). Adanya proses komoditas terhadap benda-benda budaya, maka terjadilah peniruan, penurunan atau reproduksi secara besar-besaran sehingga mutu semakin merosot. Bahkan tidak jarang, dalam seni pertunjukan tontonan dikemas dan dimodifikasi sedemikian rupa sehingga justru menghilangkan unsur seninya (Salim 1991: 137).

Seni wisata yang merupakan seni kemasan, khusus diperuntukkan wisata merupakan bentuk kesenian yang sifatnya tiruan dari aslinya. Sehingga sering disalah artikan bahwasannya seni wisata adalah seni murah dan berkualitas rendah. Sudah barang tentu, tafsir yang demikian adalah tafsir yang salah. Seni tiruan bukan berarti seni yang tidak berkualitas, akan tetapi memang murah dalam arti terjangkau untuk ukuran wisatawan namun tetap berpegang pada kualitas yang baik. Karena pada dasarnya seni wisata harus mampu menjadi media informasi dan mempunyai daya tarik sedemikian rupa sehingga layak untuk dijual.

Era industri kepariwisataan secara tidak langsung membawa situasi dan kondisi yang positif bagi seni pertunjukan tradisional, serta memberi peluang bagi senimannya untuk berkreasi sebagai perwujudan partisipasinya. Situasi dan kondisi yang demikian ditangkap oleh hotel-hotel berbintang, restoran-restoran besar. Salah satu kiat untuk mendatangkan wisatawan, adalah dengan menghadirkan seni pertunjukan tradisional.

Berbicara industri pariwisata, dalam hal ini seni wisata perlu kiranya mencermati dan mempertimbangkan bagaimana mengemas seni wisata, karena apabila melakukan kesalahan akan berakibat fatal. Ada sebuah pemikiran mengenai seni wisata oleh Soedarsono (1992/1993: 254) bahwa seni wisata mempunyai lima ciri, yaitu: (1) tiruan dari aslinya, (2) lebih singkat dari aslinya, (3) penuh variasi, (4) ditanggalkan nilai magis dan sakralnya, dan (5) murah untuk ukuran nilai uang wisatawan. Mengacu pendapat Soedarsono, dapat menentukan bentuk atau format dalam mengemas seni pertunjukan tradisional menjadi seni wisata.

Format seperti yang diteorikan Soedarsono di atas, patut untuk dikaji, disesuaikan dengan situasi dan kondisi kepariwisataan Indonesia. Format-format tersebut perlu mempertimbangkan kebutuhan wisatawan, dalam arti kebutuhan akan pertunjukan yang harus merefleksikan budaya sesuai dengan kebutuhan wisatawan yang hadir, baik lokal maupun asing. Salah satu rumah produksi seni pertunjukan yang mengacu pada teori Soedarsono adalah Sampan Bujana Sentra (Hadi 2001:4-6). Sampan Bujana Sentra merupakan rumah produksi seni pertunjukan dan restoran yang mampu menyajikan perpaduan tari musik nyanyi dan makan malam dengan menu khas Indonesia. Sampan selaku pemilik berharap, sajian wisata yang dikemasnya mampu menarik wisatawan. Rumah produksi seni pertunjukan ini dilengkapi panggung untuk pentas, alat musik untuk mengiringi pertunjukan tari dan nyanyi tertata sangat rapi di bagian belakang. Bagian tengah panggung dipasang setting pohon besar, sekaligus dimanfaatkan sebagai batas stage penari dan pemusik. Untuk dapat menyaksikan acara tersebut, setiap wisatawan dikenakan biaya sebesar Rp.119.000,-. Materi sajian pertunjukan wisata, antara lain: Tari Indang dari Melayu, Tari Saman dari Aceh, Permainan Kecapi Sunda dari Jawa Barat, Tari Belibis dari Bali, Tari Topeng Blantek dari Betawi, Rampak Kendang, Tari Jaipingan dan Permainan Musik Angklung dan nyanyi serentak seluruh artis dan wisatawan. Sajian pertunjukan wisata Sampan Bujana memakan waktu kurang lebih dua jam setiap hari, baik ada wisatawan ataupun tidak. Sistem manajemen Sampan Bujana Sentra sangat transparan, pembagian honornya bervariasi sesuai dengan tugas masing-masing. Apabila terjadi pemasukan dan pengeluaran dana tidak sesuai, maka ditopang dari pemasukan sanggar tari dan busananya.

Format seni pertunjukan wisata tersebut bertolak belakang dengan kondisi di Semarang, yang sebetulnya sangat potensial untuk digali dan dikembangkan. Potensi-potensi seni pertunjukan wisata berikut ini, harus mampu membenahi diri, terutama dalam menyikapi format seni pertunjukan wisata sebagai aset budaya. Diantaranya adalah:

1.Kawasan Puri Maerokoco yang merupakan miniatur Jawa Tengah.
Kawasan ini, masih ramai dikunjungi oleh wisatawan domestik pada setiap hari Minggu dan libur nasional. Akan tetapi kondisinya sudah mulai kumuh dan tidak terawat. Oleh karena itu, perlu ditata kembali keindahan dan kenyamanannya, sehingga keberadaan tempat wisata ini semakin banyak dikunjungi wisatawan. Salah satu cara untuk menarik perhatian wisatawan, selain keindahan dan kenyamanan, perlu ditampilkan seni pertunjukan tradisional yang berasal dari daerah-daerah yang ditampilkan secara bergiliran pada setiap akhir pekan dan hari libur nasional.

2.Kawasan PRPP (Pekan Raya Promosi Pembangunan).
Kawasan ini, hanya ramai pada bulan Agustus saja, karena adanya pekan raya promosi pembangunan. Dengan lokasi dan fasilitas yang memadai, sangat disayangkan apabila kawasan PRPP hanya dipakai pada setiap bulan Agustus saja. Perlu adanya format seni pertunjukan baik tari, seni tradisional, ataupun musik yang diadakan pada setiap akhir pekan dan hari libur nasional untuk memanfaatkan kawasan PRPP, dengan tujuan menarik perhatian wisatawan.

3.Kawasan Raden Saleh, yang hanya dimanfaatkan untuk acara-acara tertentu saja. Meskipun ada acara pentas rutin Wayang Orang pada setiap akhir pekan, tetapi kurang menarik minat wisatawan. Perlu adanya peningkatan kualitas pertunjukan, supaya menjadi lebih menarik wisatawan.

4.Kawasan Wonderia, yang hanya dimanfaatkan sebagai tempat permainan saja.
Meskipun sudah ada acara pentas musik pada setiap akhir pekan, perlu dikemas lagi menjadi seni pertunjukan yang lebih berkualitas sehingga menarik perhatian wisatawan.

5.Kawasan Kota Lama, yang semakin lama semakin mangkrak karena kurang mendapat sentuhan. Sebetulnya kawasan Kota Lama merupakan salah satu tempat yang menjadi daya tarik bagi wisatawan untuk berkunjung. Kawasan ini, perlu ditata dan dibenahi lagi sehingga menarik perhatian wisatawan untuk datang berkunjung.

6.Kawasan Lawang Sewu, yang sampai saat ini masih menjadi perdebatan berbagai instansi mengenai peruntukkannya. Kawasan ini juga kelihatan kumuh dan kurang terawat. Hal ini disebabkan mahalnya biaya perawatan. Kawasan ini perlu ditata kembali dan dibuka untuk umum, dengan agenda pertunjukan seni pada setiap akhir pekan untuk menarik perhatian wisatawan.

7.Pantai Marina, yang kondisinya kurang terawat.
Pantai Marina merupakan salah satu tempat favorit bagi remaja untuk berekreasi. Sayang sekali, kawasan ini terlihat kumuh dan tidak terawat, terlebih lagi dengan hancurnya tanggul yang terkena abrasi pantai. Apabila kawasan ini ditata dan dibenahi kembali, tentu akan semakin banyak wisatawan yang datang untuk menikmati keindahan pantai dan air laut. Perlu juga adanya sajian seni pertunjukan untuk meramaikan lokasi ini.

8.Sanggar-sanggar seni tari yang belum mampu menjadi kantong-kantong seni sebagai aset wisata.
Di Semarang, banyak sekali bermunculan sanggar-sanggar seni tari yang mengajarkan seni tari tradisional maupun modern. Sanggar-sanggar ini hanya sebatas melakukan proses pembelajaran saja untuk konsumsi peserta dan anggota sanggar. Sanggar-sanggar tari ini bisa dikelola menjadi sanggar yang dapat dikonsumsi oleh wisatawan, baik lokal maupun asing. Caranya dengan membuat paket pertunjukan untuk wisatawan berisi materi tari yang diajarkan di sanggar, bengkel-bengkel seni yang bisa dikunjungi secara langsung oleh wisatawan, pengajaran materi sanggar secara langsung kepada wisatawan yang hadir, dan membuka galery yang berisi barang-barang produksi sanggar sebagai cinderamata. Sehingga sanggar seni ini, bisa dibuat menjadi semacam kampung wisata. Salah satu sanggar yang sangat potensial menjadi sanggar dengan format seni wisata, salah satunya adalah Kampung Wisata Lerep. Kampung Wisata Lerep merupakan sebuah daerah di lereng pegunungan yang dirancang sebagai tempat wisata, lengkap mulai dari peningapan, galery seni, dan paket seni pertunjukan pada setiap akhir pekan. Hanya saja perlu adanya pemasaran untuk menjual Kampung Wisata Lerep kepada wisatawan, baik lokal maupun asing.

9.Hotel-hotel berbintang yang belum mengambil peranan dalam seni pertunjukan sebagai program pariwisata.
Semarang selain dikenal dengan kota lama, juga dikenal sebagai kota perdagangan. Selain wisatawan, banyak pelaku-pelaku perdagangan yang melakukan transaksi bisnisnya di Semarang. Dalam melakukan transaksi bisnis ini, perlu adanya tempat yang representative. Salah satunya adalah tempat penginapan atau hotel berbintang. Karena peran pentingnya itu, maka perlu adanya pelayanan dan kenyamanan dari pihak hotel terhadap tamu yang menginap. Pelayanan ini bukan saja dari segi fasilitas kamar, makan, tetapi perlu juga adanya pelayanan di bidang hiburan. Seni tradisional paling banyak disukai oleh tamu hotel baik wisatawan maupun pelaku bisnis, karena seni tradisional menjadi ciri khas daerah dimana tamu hotel berkunjung. Untuk Semarang, hotel berbintang bisa menampilkan paket pertunjukan Gambang Semarang yang terdiri dari musik, dan tari. Selain itu, juga bisa menampilkan seni tradisional dari daerah-daerah di sekitar Semarang yang sudah dikemas dan disesuaikan dengan kebutuhan tamu hotel. Paket pertunjukan ini, akan lebih baik bila ditampilkan setiap malam pada saat tamu hotel makan malam, akan tetapi apabila waktu tidak memungkinkan, cukup ditampilkan pada setiap akhir pekan saja. Dengan sajian paket seni wisata ini, diharapkan menarik minat wisatawan untuk dating menginap di hotel tersebut.

Kawasan-kawasan wisata tersebut di atas, hanya sebagian kecil yang terdapat di kota Semarang, tentu saja masih banyak kawasan wisata yang perlu mendapatkan perhatian dari pihak yang berwenang. Untuk mengembangkan seni wisata di kota Semarang, tentu tidak terlepas dari kehidupan seni pertunjukan itu sendiri. Kehidupan seni pertunjukan kaitannya dengan kepariwisataan tidak lepas dari faktor pendukungnya, yaitu: seniman dan pelaku yang berwawasan dalam mengemas seni pertunjukan, prasarana yaitu segala sesuatu yang berhubungan dengan kebutuhan fisik, dan pendanaan yang terkait dengan besar kecilnya biaya produksi, serta pengguna jasa atau penonton. Namun demikian masih harus dipertimbangkan juga faktor penunjang keberhasilan sebuah seni pertunjukan, yaitu tepat lokasi, tepat waktu, dan tepat guna.
Hubungan antara pariwisata dengan seni pertunjukan khususnya seni tari, mempunyai dampak positif dan negatif yang tidak dapat dihindari. Dampak positifnya antara lain, hadirnya wisatawan mancanegara dapat menciptakan lapangan kerja bagi para pelaku seni, sekaligus menggiatkan aktivitas berkesenian dalam rangka pelestarian dan pengembangan seni pertunjukan. Selain itu, juga sebagai ajang memperkenalkan seni pertunjukan kepada dunia luar yang diharapkan dapat memupuk perdamaian internasional, saling pengertian dan saling menghargai. Dampak negatifnya antara lain, terjadi pengkomersialisasikan dan peng-artifisialisasikan pertunjukan sebagi tontonan yang dikemas dan dimodifikasi sedemikian rupa sehingga mengabaikan unsur estetisnya. Orientasi pelaku seni pertunjukan menjadi berubah akibatnya terjadi proses pendangkalan dalam sajian seni pertunjukan.Dampak negatif ini dikarenakan adanya dua faktor, yaitu faktor ekstrinsik dan faktor instrinsik. Faktor ekstrinsik berasal dari wisatawan dan institusi pemerintah. Para wisatawan yang hadir di suatu pertunjukan dengan waktu yang terbatas tetapi mereka ingin melihat pertunjukan banyak. Dengan demikian, kepentingan wisatawan yang ingin tahu dan ingin memperoleh manfaat dari apa yang dilihat berbenturan dengan kepentingan seniman yang ingin mengungkapkan pengalaman jiwanya yang terdalam. Di pihak lain, yaitu institusi pemerintah atau organisasi penyelenggara memandang bahwa kesenian sebagai obyek pariwisata dan bukanlah kesenian sebagai subyek. Kebijakan perkembangan kesenian sering diarahkan dan diukur dari keterkaitan dengan pariwisata sehingga pariwisata dalam kaitannya dengan perkembangan seni seolah-olah menjadi satu serta identik (Salim 1991: 137). Hal ini bilamana terus berlanjut akan merugikan perkembangan kesenian. Faktor ekstrinsik adalah segala gagasan dan pola tingkah laku seniman dalam mengemas seni pertunjukan. Seniman tampaknya belum siap dan mampu menyajikan kesenian untuk keperluan pariwisata tanpa mengorbankan nilai estetiknya. Lagi pula tidak jarang, seniman menyajikan kesenian bersifat ritual yang dinaikkan di panggung menjadi kesenian komersial. Untuk menghadapi kehadiran wisatawan mancanegara, dibutuhkan seniman yang konstruktif, artinya yang dapat menjawab tuntutan dan tantangan zaman serta dapat memadukan antara kepentingan pariwisata dengan kesenian sebagai cita-cita spiritual.

PENUTUP
Seni pertunjukan sebagai satu unsur kesenian memiliki peran yang sangat menonjol dalam konteks kegiatan kepariwisataan, bahkan sebenarnya telah menunjukkan posisinya sekaligus sebagai komponen daya tarik wisata. Era industri kepariwisataan secara tidak langsung membawa situasi dan kondisi yang positif bagi seni pertunjukan tradisional, serta memberi peluang bagi senimannya untuk berkreasi sebagai perwujudan partisipasinya. Dampak positifnya antara lain, hadirnya wisatawan mancanegara dapat menciptakan lapangan kerja bagi para pelaku seni yang berpengaruh terhadap ekonomi, sekaligus menggiatkan aktivitas berkesenian dalam rangka pelestarian dan pengembangan seni pertunjukan. Dampak negatifnya, dikarenakan adanya dua faktor, yaitu faktor ekstrinsik dan faktor instrinsik. Faktor ekstrinsik berasal dari wisatawan dan institusi pemerintah. Faktor ekstrinsik adalah segala gagasan dan pola tingkah laku seniman dalam mengemas seni pertunjukan. Seniman tampaknya belum siap dan mampu menyajikan kesenian untuk keperluan pariwisata tanpa mengorbankan nilai estetiknya.Oleh karena itu, perlu adanya seniman yang konstruktif.

DAFTAR PUSTAKA
Ardika, I Gede. 1993. Kepariwisataan Bali: Rahasia Pembangunan Bali. Penerbit Harian Suara Karya dan Cita Budaya.

Bagus, I. Gusti Ngurah. 1991. Dari Obyek ke Subyek. Memanfaatkan Pariwisata sebagai Industri Jasa dalam Pembangunan. Dalam Ilmu-ilmu Humaniora. Yogyakarta: Fakultas Sastra UGM Yogyakarta.

Boediardjo, H. 1992/1993. Pariwisata dan Kebudayaan di Indonesia Pengaruh Kebudayaan Terhadap Kehidupan Budaya Bangsa dalam Konggres Kebudayaan 1991. Jakarta: Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Proyek Penelitian Pengkajian dan Pembinaan Nilai-nilai Budaya Ditjenbud, Depdikbud.
Hadi, Sri. 2001. Mencari Format Seni Pertunjukan Wisata. Makalah Seminar Seni Pertunjukan Indonesia 1998-2001 seri VIII. Seni Pertunjukan dan Pariwisata. Surakarta: Sekolah Tinggi Seni Indonesia.

Riantiarno. 1993. Perjalanan Teater: Pasar harus diciptakan. Makalah dalam pertemuan Teater Indonesia. Harian Umum Republika.

Salim, Emil. 1992/1993. Hubungan Pariwisata dengan Budaya di Indonesia: Prospek dan Masalahnya dalam Konggres Kebudayaan 1991: Kebudayaan Indonesia dan Dunia, Jakarta: Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Proyek Penelitian Pengkajian dan Pembinaan Nilai-nilai Budaya. Ditjenbund. Depdikbud.

Soekadijo, R. G. 1997. Anatomi Pariwisata: Memahami Pariwisata sebagai Systemic Linkage. Penerbit PT Gramedia Pustaka Harian Suara Karya dan Cita Budaya.

0 komentar:

:)) ;)) ;;) :D ;) :p :(( :) :( :X =(( :-o :-/ :-* :| 8-} :)] ~x( :-t b-( :-L x( =))

Poskan Komentar

 
Namablogkamu is proudly powered by Blogger.com | Template by o-om.com