Jumat, 29 Mei 2009

. Jumat, 29 Mei 2009

PENGARUH PENGETAHUAN TATA TEKNIK PENTAS
DALAM PROSES PENCIPTAAN TARI
PADA MATA KULIAH KOREOGRAFI II


Eny Kusumastuti
Staf Pengajar Seni Tari, Sendratasik, FBS UNNES
eny_unnes@yahoo.com

Abstrak

Pengetahuan tata teknik pentas sangat penting dalam proses penciptaan tari. Masalah yang dikaji adalah: (1) pengaruh pengetahuan tentang tata teknik pentas yang dikuasai oleh mahasiswa dalam proses penciptaan tari, (2) teknik mahasiswa mengemas karya tari dalam sebuah pergelaran tari berdasarkan pengetahuan tata teknik pentas, (3) hasil penataan pentas sebuah karya tari berdasarkan pengetahuan tata teknik pentas, dan (4) faktor-faktor pendorong dan penghambat dalam proses penciptaan dan penataan pentas sebuah karya tari. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif dengan teknik pengambilan data berupa tes, wawancara, observasi, dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan korelasi product moment dan interaktif. Teknik keabsahan data menggunakan dependabilitas dan konfirmabilitas. Hasil penelitian menunjukkan adanya korelasi positif antara pengetahuan tata teknik pentas dalam proses penciptaan tari. Teknik mengemas bentuk tari yang dilakukan oleh mahasiswa seni tari semester VIII sudah sesuai dengan aspek-aspek dalam koreografi kelompok. Teknik penataan pentasnya sesuai dengan pengetahuan tata teknik pentas. Faktor pendorong dalam proses penciptaan dan penataan pentas sebuah karya tari adalah adanya kebebasan dalam berkreasi untuk menuangkan ekspresi jiwa dengan media gerak. Faktor penghambat dalam proses penciptaan dan penataan tari adalah terbatasnya persediaan bahan dan peralatan yang tersedia di kampus sehingga mahasiswa harus meminjam dari luar kampus. Bahan dan peralatan tersebut meliputi, lampu, rias dan busana, dan sound system.

Kata Kunci: tata teknik pentas, proses penciptaan, penataan, pentas, karya tari


PENDAHULUAN
Tata Teknik Pentas adalah sebuah mata kuliah yang berisi pengetahuan tentang penataan pentas yang hendak dijadikan tempat untuk menampilkan sebuah karya tari, karena pada dasarnya sebuah karya tari memerlukan ruang pentas. Pengetahuan penataan pentas ini meliputi komposisi pentas, dekorasi pentas, tata rias dan busana, tata lampu, tata suara, property pentas, yang semuanya berkaitan langsung dengan keberhasilan penampilan sebuah karya tari. Mata kuliah Tata Teknik Pentas ini, sangat berperan langsung untuk menunjang mata kuliah Koreografi II yaitu dalam proses penciptaan tari.

Oleh karena itu, semestinya mahasiswa mampu mengemas karya tari hasil ciptaannya dengan menerapkan pengetahuan Tata Teknik Pentas secara mandiri. Tetapi pada kenyataannya, banyak mahasiswa yang mengolah karya tarinya tersebut mengandalkan kemampuan orang lain. Mereka cenderung kurang percaya diri dengan kemampuan yang mereka miliki, sehingga mereka merasa lebih puas apabila penataan pentas karya tarinya ditangani oleh orang lain. Apabila mereka berani untuk menerapkan pengetahuannya tentang penataan pentas, maka hasil dari pergelaran karya tari tersebut pasti lebih bagus karena mereka lebih mengerti apa saja yang dimaksud, dikehendaki dan yang menjadi kebutuhannya untuk melengkapi dan mempercantik serta mengemas karyanya menjadi sebuah karya yang mempunyai nilai jual dan profesional.
Seperti yang dikemukakan oleh Bintang Hanggoro Putra (2004) dalam penelitiannya, bahwa pada dasarnya keberhasilan mahasiswa menyajikan sebuah karya seni dalam sebuah pergelaran tari sangat tergantung pada ketajaman interpretasi mahasiswa terhadap materi kuliah yang diberikan dosen pengampu. Melihat kenyataan tersebut, diperlukan sebuah keberanian mahasiswa seni tari untuk menerapkan pengetahuan penataan Tata Teknik Pentas yang dikuasainya dalam mengemas karya tari ciptaannya. Untuk mengetahui sejauhmana keberanian mahasiswa menerapkan pengetahuan penataan pentas dalam proses penciptaan tari, maka dilakukan penelitian lapangan.

Masalah yang dikaji adalah: (1) pengaruh pengetahuan tentang tata teknik pentas yang dikuasai oleh mahasiswa dalam proses penciptaan tari, (2) teknik mahasiswa mengemas karya tari dalam sebuah pergelaran tari berdasarkan pengetahuan tata teknik pentas, (3) hasil penataan pentas sebuah karya tari berdasarkan pengetahuan tata teknik pentas, dan (4) faktor-faktor pendorong dan penghambat dalam proses penciptaan dan penataan pentas sebuah karya tari.

TATA TEKNIK PENTAS
Tata teknik pentas adalah sebuah mata kuliah yang berisi pengetahuan penataan sebuah pentas, yang meliputi penguasaan penataan sebuah panggung, komposisi pentas, penataan dekorasi panggung, penataan rias dan busana, penataan lampu untuk panggung (lighting), dan penataan suara (sound system).

Penataan Panggung
Pentas adalah suatu tempat yang tinggi dimana lakon-lakon drama dipentaskan, atau suatu tempat para aktor bermain (Webster dalam Lathief 1986: 1). Sementara itu menurut Purwadarminta (dalam Lathief 1986: 10), pentas adalah lantai yang agak ketinggian di rumah (untuk tempat tidur) ataupun di dapur (untuk masak-memasak). Pengertian panggung menurut Purwadarminta (Lathief 1986: 2) adalah lantai yang bertiang atau rumah yang tinggi dan atau lantai yang mempunyai ketinggian untuk bermain sandiwara, balkon atau podium. Dalam istilah seni pertunjukan, panggung dikenal dengan istilah stage yang melingkupi pengertian seluruh panggung.

Komposisi Pentas
Komposisi pentas adalah penyusunan yang berarti dan artistik atas bahan-bahan perlengkapan pentas (Lathief 1986: 60). Perlengkapan-perlengkapan yang dimaksud adalah perlengkapan kasat mata yang statis misalnya aktor atau penari dan perlengkapan yang tidak bergerak yaitu dekorasi, property dan lain-lain. Prinsip komposisi pentas adalah aspek motif komposisi, aspek teknis komposisi, aspek piktorial komposisi dan control of attention. Aspek motif komposisi meliputi: (1) komposisi harus nampak wajar, komposisi hendaklah menceritakan suatu kisah, (2) komposisi hendaklah menggambarkan suatu emosi, dan (3) komposisi hendaklah memberikan indikasi hubungan tokoh perwatakan yang satu dengan yang lainnya.

Penataan Dekorasi Panggung
Dekorasi panggung terbagi menjadi 5, yaitu: (1) natural background yaitu penggunaan latar belakang panggung dalam suatu pementasan dengan warna yang netral yaitu hitam (backdrop) dan terang (cyclorama), (2) decorative scenery yaitu perlengkapan panggung yang mempergunakan peralatan imitasi atau tiruan untuk dapat memberikan suasana, (3) descriptive scenery yaitu perlengkapan panggung menggunakan benda aslinya untuk menghias panggung agar dapat mewakili suasana, (4) atmosphere scenery yaitu perlengkapan panggung yang menggunakan kombinasi antara descriptive dan decorative yaitu sebagian menggunakan hiasan panggung (benda asli) dan sebagian imitasi, dan (5) Active background yaitu latar belakang yang aktif (bergerak) sehingga dapat menopang suasana.

Penataan Rias dan Busana Panggung
Rias muka maksudnya adalah menghias muka atau memperindah muka dengan tujuan untuk memperkuat watak tarian atau tokoh yang diperankan (Bastomi 1985: 30). Menurut Kehoe (terj. Aliff 1986: 221), make up untuk panggung atau pentas maksudnya adalah untuk mengimbangi efek-efek jarak antar penonton dan para pemain atau pelaku mengenai jelas terangnya rupa muka dan untuk mengimbangi intensitas cahaya lampu-lampu diatas pentas yang seakan-akan menyapu bersih warna-warna aslinya pada muka dan menyebabkan bentuk-bentuk pada muka para pelaku menjadi datar saja. Rias panggung harus memperhatikan penataan lampu dan jarak antara pemain dan penonton. Fungsi pokok tata rias adalah mengubah penampilan seorang pemain dari karakternya sendiri menjadi karakter tertentu yang merupakan tuntutan skenario dengan bantuan rias wajah.
Rias busana adalah seluruh kostum/busana yang dipakai dalam pergelaran. Pemakaian busana dimaksudkan untuk memperindah tubuh, disamping itu juga untuk mendukung isi tarian. Tujuan dan fungsi busana adalah membantu penonton agar mendapatkan suatu ciri atas pribadi pemegang peran dan memperlihatkan adanya hubungan perasaan antara satu pemain dengan pemain lain terutama peran-peran kelompok. Pemilihan dan pemakaian busana bertalian erat dengan kegunaan busana dan tidak terlepas dari gerak tari. Gerak-gerak melebar dapat didukung dengan busana yang cukup longgar karena akan memberi keleluasaan gerak, bahkan sering terjadi kesan gerak ringan sebagai akibat lambaian busana yang longgar dapat memperindah sebuah karya tari. Akan tetapi, busana yang terlalu longgar dan terlalu banyak macam warnanya akan mengganggu keleluasaan gerak dan merusak gerak.

Penataan Lampu
Tujuan lampu panggung adalah: (1) menyinari dan menerangi, (2) mengingatkan efek lighting alamiah maksudnya adalah menentukan keadaan jam, musim dan cuaca, (3) membantu melukis dekor/scenery dalam menambah nilai, warna sehingga tercapai adanya sinar dan bayangan, lukisan tersebut akan menjadi dekor selama dipakai pertunjukan tetapi bila tidak dipakai tidak menjadi dekor, dan (4) membantu permainan lakon dan dalam melambangkan maksudnya dan memperkuat kejiwaannya.
Dalam penataan lampu panggung perlu diperhatikan beberapa masalah, yaitu: masalah fisikal dan masalah mekanikal dan masalah artistik. Masalah fisikal dan mekanikal adalah masalah yang berkaitan dengan teknik pemasangan dan operasional lampu yaitu lighting unit macam apa yang dipakai; dimana alat-alat tersebut ditempatkan, mengapa dan kenapa lampu tersebut ditempatkan di tempat tersebut, pengerjaan instalasi yang aman dan sempurna, dan cara pengontrolan lampu yang baik. Masalah artistik ialah bagaimana cara menggunakan lampu agar lampu tersebut dapat merangsang emosi penonton.

Penataan Suara (Sound System)
Penataan suara adalah pengaturan bunyi dalam sebuah pertunjukan. Gunanya adalah untuk memperluas volume suara dari sumber suara baik secara langsung maupun tidak langsung, agar penonton dan penari dapat dengan jelas menangkap lagu yang disampaikan yang akan membantu suasana, dinamika, dramatik pertunjukan, sehingga akan menarik perhatian penonton.
Dalam menata sound system perlu memperhatikan peralatan, akustik gedung, luasnya gedung, auditorium, dan keseimbangan bunyi. Satu set peralatan sound system terdiri dari tape dalam bentuk pita kaset, pita rel dan piringan hitam, amplifier dan mixer, equalizer, expander, surround, speaker, mic dan headphone.
Tape digunakan untuk gedung pertunjukan yang memenuhi syarat dengan menggunakan casset deck (hanya sebagai alat untuk pemutar dengan segala sistemnya tapi tanpa menghasilkan suara). Untuk menghasilkan suara dibantu dengan amplifier yang fungsinya untuk mengatur keluar suara ke beberapa speaker dimana satu speaker harus satu amplifier. Jumlah watt amplifier harus sesuai dengan jumlah watt speakernya. Bila tidak memiliki mixer maka dapat menggunakan amplifier. Bila ada mixer, maka cukup satu amplifier. Untuk membedakan nada sedang atau nada tinggi dibutuhkan suatu alat yang disebut grafik equalizer yang gunanya untuk meningkatkan mutu. Penempatan speaker harus melihat luas ruang, bentuk ruang dan jumlah penonton. Untuk ruang yang luas atau lapangan digunakan horn, sedangkan untuk ruangan dipakai yang kecil dan ramping. Cara meletakkan speaker paling rendah setinggi orang dan berpasangan kesudut, tidak berhadap-hadapan. Untuk stage diletakkan menghadap ke dalam.

KOREOGRAFI KELOMPOK
Koreografi adalah proses penciptaan tari kelompok atau komposisi kelompok yang dapat dipahami sebagai seni cooperative sesama penari. Di dalam koreografi kelompok, diantara penari harus ada kerjasama, saling ketergantungan atau terkait satu dengan yang lain. Masing-masing penari mempunyai pendelegasian tugas atau fungsi. Bentuk koreografi ini semata-mata hampir menyandarkan diri pada keutuhan kerja sama sebagai wahana komunikasi. Berbeda dengan koreografi kelompok, koreografi tunggal adalah proses penciptaan tari tunggal dimana seorang penari bebas menari sendiri. Seorang penari tunggal di atas panggung sewaktu-waktu dapat melakukan gerak secara spontanitas atau improvisasi secara mendadak karena lupa susunan atau komposisi gerakan yang seharusnya dilakukan. Bagi penari yang terampil, hasilnya akan baik dan penonton tidak akan tahu bahwa gerakan itu spontanitas (Hadi 1996: 1).
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam koreografi kelompok adalah pertimbangan jumlah penari, pertimbangan jenis kelamin, aspek ruang, wujud kesatuan kelompok dalam struktur ruang, menentukan penari kunci, dan aspek waktu.

Pertimbangan Jumlah Penari
Pertimbangan jumlah penari dalam kelompok dapat dibedakan menjadi dua yaitu penari jumlah gasal dan penari jumlah genap. Jumlah penari gasal memberikan kesan adanya pemisahan kelompok menjadi dua pusat perhatian atau focus on two points sehingga menjadi asimetris atau tidak seimbang. Sedangkan jumlah penari genap secara harmonis menyatu atau memberi kesan simetris atau seragam (Smith 1985: 55). Penentuan jumlah penari gasal dan genap tergantung dengan maksud tari atau kehendak si penata tari.

Pertimbangan Jenis Kelamin dan Postur Tubuh
Jumlah penari dalam komposisi kelompok perlu juga dipertimbangkan jenis kelaminnya, baik sajian tari bersifat literal maupun non-literal. Terutama garapan dengan bentuk literal mengandung tema cerita tertentu dan tipenya lebih kepada laku dramatari, jenis kelamin putra atau putri tergantung pada karakter atau tokohnya. Tipe dramatik juga dimungkinkan terjadinya perubahan karakter oleh seorang penari atau seorang penari memerankan berbagai macam tokoh dalam satu rangkaian kejadian dramatik di atas stage tanpa keluar masuk panggung. Disamping mempertimbangkan jenis kelamin dalam komposisi kelompok hendaknya juga mempertimbangkan figur atau postur tubuh penari, seperti misalnya gemuk-kurus, tinggi-pendek atau besar-kecil.

Aspek Ruang
Ruang adalah sesuatu yang tidak bergerak dan diam sampai gerakan yang terjadi di dalamnya mengintrodusir waktu, dan dengan demikian mewujudkan ruang sebagai suatu bentuk, suatu ekspresi khusus yang berhubungan dengan waktu yang dinamis dari gerakan (Hadi 1996: 13).
Arah merupakan aspek ruang yang mempengaruhi efek estetis ketika bergerak melewati ruang selama tarian itu berlangsung, sehingga ditemukan pola-polanya, dan sering dipahami sebagai pola lantai. Pola lantai adalah pola atau wujud yang dilintasi atau ditempati oleh gerak-gerak para penari di atas lantai dari ruang tari tertentu (Meri 1965: 17).

Wujud Kesatuan Kelompok dalam Struktur Ruang
Seorang penata tari harus mempertimbangkan desain atau wujud tari dalam struktur ruang yang dipakai. Untuk hal itu ada hal-hal yang perlu dipertimbangkan antar lain arah hadap penari, jarak antara sesama penari, serta pusat-pusat perhatian dalam pola lantainya.
Menentukan Penari Kunci
Penari kunci adalah penari yang menjadi pedoman atau panutan dari penari yang lain untuk keberhasilan keserasian atau keserampakan gerak maupun pedoman keruangan. Penari kunci belum tentu sebagai penari pokok atau penari utama dalam tema tarian itu. Pengaturan atau penentuan penari kunci tergantung formasi atau posisi dimana penari itu berada, hubungannya dengan arah hadap atau jarak antara.
Aspek Waktu
Struktur waktu dalam tari dapat dipahami dari aspek-aspek tempo, ritme, dan durasi. Aspek tempo merupakan kecepatan atau kelambatan sebuah gerak. Jarak antara cepat terlalu cepat, dan terlalu lambat dari lambat menentukan energi atau rasa geraknya. Tempo-tempo seperti itu tersedia apabila seorang penari menginginkan dan mampu menjangkau. Aspek ritme dipahami dalam gerak sebagai pola hubungan timbal balik atau perbedaan dari jarak waktu cepat atau lambat. Pengulangan yang sederhana dengan interval-interval berjarak waktu yang sama, perubahannya atau pengulangannya menimbulkan pengaliran energi yang ajeg dan sama. Tekanan atau laku-laku itu mempunyai rasa keteraturan dan sering disebut dengan ritme ajeg atau even rhytm. Apabila pengulangan jarak waktunya bervariasi, sehingga intervalnya tidak sama perubahannya, maka ritme semacam itu tidak ajeg atau uneven rhytm (Smith 1985: 69).
Musik Pengiring
Musik sebagai iringan rimis yaitu mengiringi tari sesuai dengan rimis geraknya. Musik pengiring sebagai illustrator dibutuhkan untuk membangun suasana tari, dan lebih banyak digunakan untuk bentuk sajian yang bersifat literal, baik dengan tipe dramatik maupun dramatari.

PROSES PENCIPTAAN TARI
Proses koreografi melalui eksplorasi, improvisasi dan juga seleksi adalah pengalaman tari yang dapat memperkuat kreativitas. Eksplorasi adalah suatu proses penjajagan yaitu sebagai pengalaman untuk menanggapi obyek dari luar atau aktivitasnya mendapat rangsang dari luar. Eksplorasi meliputi berpikir, berimajinasi, merasakan dan merespon ( Hawkins 1988: 19). Eksplorasi dalam proses koreografi ini untuk menjajagi aspek-aspek bentuk dan teknik para penari, yaitu keterampilan atau kualitas gerak penari serta aspek-aspek isi atau makna tari. Improvisasi adalah pengalaman tari yang sangat diharapkan dalam proses koreografi kelompok. Melalui improvisasi diharapkan para penari mempunyai keterbukaan yang bebas untuk mengekspresikan perasaannya lewat media gerak. Improvisasi diartikan sebagai penemuan gerak secara kebetulan atau spontan, walaupun gerakan-gerakan tertentu muncul dari gerak-gerak yang sudah pernah dipelajari sebelumnya. Pembentukan adalah sebagai proses pengembangan materi tari sebagai kategori peralatan atau materi koreografi, dan sebagai proses mewujudkan suatu struktur yaitu struktur atau prinsip-prinsip bentuk komposisi.

METODE
Pendekatan Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Pendekatan kuantitatif digunakan untuk mencari hubungan antara kemampuan mahasiswa dalam menguasai pengetahuan Tata Teknik Pentas dengan kemampuan mahasiswa dalam proses penciptaan tari pada koreografi II. Fokus penelitian meliputi: kemampuan mahasiswa dalam menguasai pengetahuan tata teknik pentas, kemampuan mahasiswa dalam menerapkan pengetahuan tata teknik pentas dalam proses penciptaan tari pada koreografi II, hasil dari penerapan pengetahuan tata teknik pentas dalam proses penciptaan tari, faktor-faktor yang menghambat proses penciptaan karya tari.

Populasi dan Sampel
Populasi penelitian ini adalah mahasiswa seni tari FBS UNNES semester VIII. Sampel penelitian ini berjumlah 20 orang. Sampel diambil dengan teknik sampling purposive karena dengan pertimbangan tertentu, yaitu mahasiswa tersebut sudah menempuh mata kuliah Tata Teknik Pentas dan pada saat diadakan penelitian, mahasiswa tersebut sedang menempuh mata kuliah Koreografi II.

Teknik Pengumpulan Data
Untuk memperoleh data, diadakan tes yang mencakup tes penguasaan pengetahuan Tata Teknik Pentas dan Tes Koreografi II. Langkah yang ditempuh adalah, pertama mengadakan tes penguasaan Tata Teknik Pentas yang didalamnya terdapat dua bentuk tes yaitu tes teoretik dan tes praktek. Kedua, mengadakan tes penerapan pengetahuan Tata teknik Pentas dalam sebuah karya seni yang terwujud pada mata kuliah Koreografi II. Pelaksanaan kedua tes tersebut dilakukan oleh dua orang penguji. Data yang diperoleh adalah nilai-nilai Tata Teknik Pentas. Nilai-nilai tersebut dikelompokkan dan disusun menurut peringkat dari nilai tertinggi sampai dengan peringkat nilai terendah dan disejajarkan dengan nilai Koreografi II.
Data tentang faktor-faktor penghambat dan pendorong dalam proses penataan pentas sebuah karya tari didapatkan dengan menggunakan wawancara terarah dan tidak terarah. Wawancara terarah digunakan untuk mewancarai mahasiswa, dosen pengampu dan penonton. Wawancara tidak terarah digunakan untuk mengungkap data-data yang tidak ditemukan didalam wawancara terarah. Sedangkan observasi partisipan digunakan untuk melihat reaksi penonton terhadap pementasan karya tari mahasiswa.

Teknik Analisis Data
Teknik analisis data kuantitatif dalam penelitian ini mempergunakan rumus Korelasi Product Moment dengan taraf signifikan 0,05.
(xy
rxy =
{(x2 ) ( (y2 )
Dengan keterangan :
rxy = koefisien korelasi antara penguasaan Tata Teknik Pentas dengan kemampuan penataan pentas sebuah karya tari .
x = penguasaan Tata Teknik Pentas
y = kemampuan penciptaan pentas sebuah karya tari.
Sedangkan analisis data kualitatif dalam penelitian ini menggunakan deskriptif kualitatif. Proses ini dilakukan secara sistematis dan serempak mulai dari proses pengumpulan data, mereduksi, mengklarifikasi, mendeskripsikan dan menyimpulkan serta menginterpretasikan semua informasi secara selektif (Miles dan Huberman, dalam Rohidi 1992: 10).
Teknik pemeriksaan keabsahan data memakai dependabilitas dan konfirmabilitas, dimana data yang didapat ditafsirkan hingga penarikan kesimpulan lewat pembimbing dan teman sejawat.

HASIL DAN PEMBAHASAN
Tingkat Pengaruh Pengetahuan Tata Teknik Pentas yang Dikuasai Mahasiswa dalam Proses Penciptaan Tari pada Mata Kuliah Koreografi II
Penelitian ini membuktikan bahwa ada korelasi atau hubungan antara kemampuan tata teknik pentas dengan kemampuan penciptaan tari. Sampel penelitian ini adalah mahasiswa seni tari semester VIII yang sudah menempuh mata kuliah tata teknik pentas dan pada saat penelitian berlangsung sedang menempuh mata kuliah koreografi II. Mahasiswa ini berjumlah 20 orang.
Data penelitian ini diperoleh dengan cara memberikan tes teoretik dan praktik untuk mata kuliah tata teknik pentas, serta tes praktik untuk mata kuliah koreografi II. Penilaian diberikan dengan memberikan rentangan skor 60-90. Setelah nilai-nilai tersebut diperoleh, maka antara nilai tata teknik pentas dan nilai koreografi II disejajarkan mulai dari yang tinggi sampai dengan yang rendah. Untuk mencari hubungan nilai-nilai tersebut dimasukkan ke dalam rumus korelasi product moment.
Dari perhitungan tersebut, dapat dilihat bahwa harga r hitung adalah sebesar 0,52 dengan N=20, lebih besar dari harga r table dengan taraf signifikan 5 % sebesar 0,444 dengan N=20. Ho ditolak dan Ha diterima. Dengan demikian ada korelasi positif antara pengetahuan tata teknik pentas dengan kemampuan penciptaan tari. Semakin besar tingkat pengetahuan tata teknik pentas, semakin besar pula kemampuan penciptaan tari.

Teknik Mengemas Karya Tari Dalam Sebuah Pergelaran Berdasarkan Pengetahuan Tata Teknik Pentas

Teknik mengemas tari bentuk dalam sebuah pergelaran berdasarkan aspek-aspek yang terdapat dalam koreografi kelompok. Aspek-aspek tersebut adalah pertimbangan jumlah penari, pertimbangan jenis kelamin, aspek ruang, wujud kesatuan kelompok dalam struktur ruang, menentukan penari kunci, dan aspek waktu.

Pertimbangan Jumlah Penari
Mahasiswa seni tari semester VIII dalam teknik pengemasan tari bentuk tersebut, lebih cenderung memilih jumlah penari gasal dengan pertimbangan bahwa jumlah gasal akan lebih mudah untuk membuat pola lantai dan komposisi gerak. Dari 20 bentuk tari yang ada, 15 bentuk tari dibawakan dengan jumlah penari 3 orang, yaitu tari Sekar Arum, tari Pendet, tari Golek Ayun-ayun, tari Sri Panganti, tari Rantak, tari Jejer Gandrung, tari Ngarojeng, tari Monggawa, tari Terang Wulan, tari Jaimasan, tari Margapati, tari Remo Bolet, tari Payung, tari Sulintang, dan tari Soyong. Tari Srimpi Gondokusuma ditarikan oleh 4 orang penari, tari Bandayuda dan tari Srikandi Mustakaweni ditarikan oleh 2 orang penari, tari Klana Topeng dan tari Gunungsari dibawakan oleh satu orang penari.

Pertimbangan Jenis Kelamin dan Postur Tubuh
Pertimbangan jenis kelamin dalam proses penciptaan tari tergantung pada tema tarian yang dikemas. Tema tari yang dibawakan tentang keceriaan wanita, kepahlawanan wanita, penyembahan pada Dewa oleh wanita. Praktis, pemilihan penari wanita karena semata-mata tema tarinya yang memang harus dibawakan oleh wanita. Ada pula tari yang seharusnya bisa dibawakan oleh pria karena bertema kegagahan seorang raja, tetapi tari tersebut dibawakan oleh wanita hanya karena keterbatasan jumlah penari yang berjenis kelamin pria. Hal tersebut, bisa diterima selama penari tersebut mampu membawakan bentuk tari itu sesuai dengan karakternya. Selain pertimbangan jenis kelamin, postur tubuh juga sangat mempengaruhi komposisi pentas dalam koreografi kelompok. Untuk postur tubuh, tidak ada masalah yang berarti sebab mahasiswa seni tari semester VIII mempunyai postur tubuh yang rata-rata sama.

Aspek Ruang
Pengolahan ruang menjadi bagian penting dalam koreografi kelompok. Dimensi ruang yang indah akan tercapai pada saat penari bergerak untuk menjangkau ketinggiannya, kelebarannya dan kedalamannya sehingga menjadi ruang yang hidup. Mahasiswa seni tari semester VIII mampu mengolah ruang pentas menjadi hidup dan menarik dengan pola-pola lantainya.

Wujud Kesatuan Kelompok Dalam Struktur Ruang
Dengan jumlah penari yang sudah menjadi bahan pertimbangan oleh koreografer, maka wujud kesatuan kelompok dalam struktur ruang akan tetap terjaga. Kekompakan, kerjasama, saling mengisi antara satu pemain dengan pemain lain mejadi salah satu sebab terwujudnya kesatuan kelompok dalam struktur ruang. Hal ini mampu diekpresikan oleh mahasiswa seni tari semester VIII dalam mengemas bentuk tari.

Menentukan Penari Kunci
Karena dalam koreografi kelompok ini, mahasiswa hanya dituntut untuk mengemas kembali bentuk tari yang sudah mereka dapatkan sejak perkuliahan semester I sampai semester VIII, maka penentuan penari kunci diabaikan. Karena semua penari mempunyai kedudukan yang sama, dan tanggung jawab yang sama.

Aspek Waktu
Struktur waktu dapat dipahami melalui aspek-aspek tempo, ritme dan durasi yang harus dikuasai oleh penari dengan baik. Mahasiswa seni tari semester VIII mampu mengemas bentuk tari yang ada dengan tetap memperhatikan struktur waktu yang baik.

Musik Pengiring
Tari tanpa iringan adalah sesuatu yang kurang lengkap. Iringan tari sangat dibutuhkan sebagai illustrator untuk membangun suasana yang dikehendaki oleh koreografer.

Hasil Penataan Pentas Sebuah Karya Tari Yang Dilakukan Mahasiswa Berdasarkan Pengetahuan Tata Teknik Pentas
Ada beberapa aspek yang harus diperhatikan oleh mahasiswa dalam menata tari diatas pentas, yaitu : (1) Penataan Panggung, (2) komposisi pentas, (3) penataan dekorasi panggung, (4) penataan rias dan busana, (5) penataan lampu untuk panggung dan (6) penataan suara.

Penataan Panggung
Panggung yang digunakan oleh mahasiswa semester VIII dalam ujian mata kuliah Koreografi II bentuknya adalah procenium. Panggung ini tidak sepenuhnya dapat disebut procenium, karena tidak memenuhi kriteria panggung procenium yang ideal, misalnya lebar apron tidak seimbang dengan lebar pentasnya. Dalam pergelaran bentuk tari yang dikemas oleh mahasiswa, panggung tersebut dibiarkan kosong melompong tanpa ada penataan khusus. Hal ini sebetulnya mengurangi nilai keindahan, karena dengan kosongnya panggung maka konsentrasi penonton hanya akan terarah pada penari, sehingga tanggung jawab penari sangan berat. Sebaliknya apabila panggung ditata tidak sesuai dengan karakter tariannya, juga menjadi tidak indah.

Komposisi Pentas
Komposisi adalah penyusunan yang berarti dan artistik bahan-bahan perlengkapan pentas. Perlengkapan yang dimaksud disini adalah aktor, dekorasi dan property lain. Dalam pergelaran tari tersebut, mahasiswa mampu membuat komposisi pentas dengan baik, dinamis dan menarik melalui pola-pola gerak, pola lantai, desain gerak, yang dibuat oleh penari.

Penataan Dekorasi Panggung
Pementasan bentuk tari oleh mahasiswa seni tari semester VIII tidak diikuti oleh penataan dekorasi panggung. Panggung dibiarkan dalam keadaan kosong tanpa adanya dekorasi apapun yang dapat memperjelas tema tari. Kekuatan gerak dan kekompakan penari yang diandalkan untuk menjadi pusat perhatian penonton. Hal tersebut dapat diterima asalkan kekuatan, kekompakan dan kerjasama penari sangat baik sehingga perhatian penonton tetap akan tertuju pada penari. Tetapi apabila penari tidak bisa menjaga kerjasama yang baik, maka perhatian penonton akan cepat beralih pada hal lain. Sebaiknya panggung didekor sesuai dengan karakter tari atau tema pertunjukan.

Penataan Rias dan Busana Panggung
Rias dan busana panggung yang dikenakan oleh mahasiswa semester VIII dalam membawakan tari sudah baik dan sesuai dengan tema tari. Rias yang dipakai adalah riasa cantik dan bagus. Busana yang dikenakan penari putri cenderung lebih banyak kain sebatas betis dengan kebaya lengan panjang dan sampur. Model penataan rambut lebih banyak berbentuk sanggul modern yang diberi asesoris. Sedangkan untuk bentuk tari klasik, memakai kain lereng dan mekak, dan rambut memakai irah-irahan. Untuk penari putra, memakai celana sebatas betis, kain lereng sebatas betis dengan model pemakaian sapit urang, bertelanjang dada, memakai ikat kepala. Warna kostum yang dipakai adalah merah, hitam, hijau, kuning dan biru.

Penataan Lampu
Lampu berfungsi sebagai penyinaran panggung dan menciptakan effek alamiah serta membantu mempertajam suasana atau karakter yang diinginkan sebuah tari. Jenis-jenis lampu yang dipakai oleh mahasiswa semester VIII adalah lampu kaki, lampu spot dan lampu general. Lampu-lampu ini sebetulnya tidak strandart, sehingga hasilnya tidak maksimal. Pemakaian lampu tersebut dikendalikan pada satu pusat yang disebut dimmer sehingga penari tinggal membuat script lighting yang kemudian diserahkan kepada bagian operasional lampu. Bagian operasional lampu inilah yang bertugas menterjemahkan script lighting yang dibuat oleh koreografer.Dimmer yang dipakai untuk mengontrol jatuhnya arah sinar inipun tidak lengkap sehingga sinar yang dihasilkan hanya bisa fade in (menyala secara tiba-tiba) dan fade out (mati dengan tiba-tiba). Warna lampu yang dipakai adalah merah, kuning, hijau dan biru. Secara keseluruhan hasilnya kurang bagus sebab pemunculan sinar dalam setiap bentuk tari monoton, tidak menyesuaikan dengan tema tarinya, sehingga kesannya dipaksakan.

Penataan Suara
Penataan suara adalah pengaturan bunyi dalam sebuah pertunjukan. Penataan bunyi yang ideal terdiri dari pita kaset, amplifier dan mixer, equaliser, expander, surround, speaker, mic dan headphone. Perangkat suara ini ditata secara permanen di dalam gedung sehingga sewaktu-waktu dibutuhkan selalu siap. Dalam pergelaran yang dilakukan oleh mahasiswa seni tari semester VIII, sound system yang digunakan adalah tidak permanen. Pita kaset , amplifier, mixer, equalizer diletakkan di bagian dalam panggung untuk memudahkan penari menyerahkan kaset untuk diputar. Sedangkan speaker diletakkan didepan panggung. Hasilnya kurang bagus karena masih tersisa suara yang menggema, seharusnya dalam sebuah pertunjukan, tata suara yang bagus adalah tata suara yang tidak menggema atau bergaung.

Faktor-faktor Pendorong dan Penghambat Yang Dialami Dalam Proses Penciptaan dan Penataan Pentas Sebuah Karya Tari.
Faktor pendorong mahasiswa seni tari semester VIII dalam proses penciptaan tari adalah adanya kebebasan ide dalam berkreasi. Mahasiswa diberikan kebebasan dalam mengemas kembali bentuk tari berdasarkan aspek-aspek dalam koreografi kelompok dan aspek-aspek tata teknik pentas. Meskipun demikian, tidak boleh meninggalkan ide dasar penciptaan tari tersebut. Faktor penghambat adalah terbatasnya persediaan bahan dan peralatan dalam proses penciptaan dan penataan pentas. Misalnya, dalam hal lampu yang kurang lengkap dan tidak standart, bahan dan perlengkapan rias dan busana juga tidak lengkap sehingga mahasiswa harus meminjam dari luar kampus, perlatan tata suara yang permanen juga tidak ada, sehingga pada saat dibutuhkan harus menata terlebih dahulu.

SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Dari hasil penghitungan dengan menggunakan rumus korelasi product moment, ditemukan harga r hitung dengan N=20 sebesar 0,52 lebih besar dari harga r table dengan N=20 sebesar 0,444. Ho ditolak dan Ha diterima. Jadi ada korelasi positif antara pengetahuan tata teknik pentas dalam proses penciptaan tari. Sehingga semakin besar tingkat pengetahuan tata teknik pentas, semakin besar pula tingkat kemampuan penciptaan tari.

Teknik mengemas bentuk tari yang dilakukan oleh mahasiswa seni tari semester VIII sudah sesuai dengan aspek-aspek dalam koreografi kelompok dan teknik penataan pentasnya juga sesuai dengan pengetahuan tata teknik pentas. Faktor pendorong dalam proses penciptaan dan penataan pentas sebuah karya tari adalah adanya kebebasan dalam berkreasi untuk menuangkan ekspresi jiwa dengan media gerak. Faktor penghambat dalam proses penciptaan dan penataan tari adalah terbatasnya persediaan bahan dan peralatan yang tersedia di kampus sehingga mahasiswa harus meminjam dari luar kampus. Bahan dan peralatan tersebut meliputi, lampu, rias dan busana, dan sound system.

Saran
1.Mahasiswa diharapkan lebih mendalami pengetahuan tata teknik pentas dan berani menerapkannya dalam proses penciptaan tari.
2.Dosen pengampu matakuliah tata teknik pentas dan koreografi diharapkan lebih intensif dalam memberikan pengetahuan, bimbingan dan pengarahan terhadap mahasiswa dalam proses penciptaan dan penataan tari.
3.Jurusan Sendratasik Fakultas Bahasa dan Seni diharapkan dapat menambah tersedianya bahan dan peralatan yang dibutuhkan dalam proses penciptaan dan penataan tari sehingga dapat membantu mahasiswa dalam berkarya.

DAFTAR PUSTAKA
Bastomi, Suwaji. 1995. Seni Rupa Dalam Pagelaran Tari. Semarang: Aji Jaya Offset.

Hadi, Y. Sumandiyo. 1996. Aspek-aspek Koreografi Kelompok. Yogyakarta: Manthili.

Kehoe, Vincent J.R. 1986. The Technique of Film and Television : Make Up for Color and Black and White. (terj. Aliff). Jakarta: Yayasan Citra.

Lathief, Halilintar. 1986. Pentas Sebuah Perkenalan. Yogyakarta: Legaligo.

Hawkins, Alma M. 1988. Creating Through Dance . New Jersy: Princeton Book Company.

Meri, La. 1965. Dance Composition : The Basic Elements. Massachusetts: Jacob’s Pillow Dance Festival, Inc.

Miles, B. Matthew dan Huberman, A. Michael. 1992. Analisis Data Kualitatif. Terjemahan Tjetjep Rohendi Rohidi. Jakarta: UI Press.

Putra, Bintang Hanggoro. 2004. Pengembangan Materi Pergelaran Tari dan Musik dengan Model Tutorial Analitik Demokratik. Laporan Penelitian. Semarang: LEMLIT.

Smith, Jacqueline M. 1985. Dance Composition : A Practical Guide for Teachers. London: A & Black.

0 komentar:

:)) ;)) ;;) :D ;) :p :(( :) :( :X =(( :-o :-/ :-* :| 8-} :)] ~x( :-t b-( :-L x( =))

Poskan Komentar

 
Namablogkamu is proudly powered by Blogger.com | Template by o-om.com